Share

Termasuk Bipolar, Ini 5 Gangguan Kejiwaan Hasil Warisan

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 29 Juni 2022 18:34 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Gangguan Kesehatan Mental. (Foto: Shutterstock)

ARTIS cantik Marshanda memang menjadi bahan pembicaraan netizen dalam beberapa hari terakhir ini. Pasalnya, Marsahanda sempat dikabarkan menghilang di Los Angeles, Amerika Serikat.

Menghilangnya Marshanda ini pun dikaitkan dengan kondisi penyakit mental yang dia derita, Bipolar. Selain Marshanda, dalam wawancara singkat dengan awak media, dia juga mengungkapkan bahwa sang ayah mengidap bipolar disorder juga.

Bipolar atau bisa juga disebut juga depresi manic merupakan salah satu penyakit yang bisa terjadi karena genetika. Selain bipolar, melansir dari Medical News Today, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Genetics, terdapat lima gangguan mental yang mungkin dapat diturunkan.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan memang menyadari bahwa banyak gangguan kejiwaan cenderung diturunkan dalam keluarga, sehingga ini menunjukkan adanya potensi genetik.

Bipolar

Dijelaskan oleh Ikhsan Bella Persada,M.Psi., Psikolog, memang benar sebagian gangguan mental dapat disebabkan oleh faktor keturunan. Namun, bukan berarti orangtua yang memiliki gangguan mental akan melahirkan anak dengan gangguan mental juga.

“Faktor genetik ini artinya adanya risiko yang lebih besar untuk keturunannya memiliki gangguan mental tersebut. Faktor lainnya tetap perlu diperhatikan, seperti faktor lingkungan atau perkembangan si individu,” ucap Ikhsan seperti dilansir dari KlikDokter.

Kondisi kesehatan mental yang kemungkinan bisa diturunkan:

- Skizofrenia

- Gangguan bipolar

- Gangguan depresi mayor

- Gangguan spektrum autisme

- Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Faktor genetik yang berkontribusi terhadap perkembangan gangguan mental meliputi regulasi epigenetik dan polimorfisme genetik. Epigenetik memengaruhi bagaimana seseorang bereaksi terhadap lingkungan. Dapat pula memengaruhi apakah orang tersebut akan mengalami gangguan mental sebagai akibat dari reaksi tadi.

Namun, epigenetik tidak konstan dari waktu ke waktu. Ini berarti gen tidak selalu aktif ataupun mati. Perlu ada kombinasi yang tepat dari faktor lingkungan dan regulasi epigenetik untuk gangguan mental bisa berkembang.

Sementara polimorfisme genetik berkaitan dengan perubahan dalam DNA yang dapat seseorang unik sebagai individu. Polimorfisme saja sebenarnya tidak akan mengarah pada perkembangan gangguan mental. Namun, kombinasi dari satu atau lebih polimorfisme spesifik dan faktor lingkungan tertentu dapat menyebabkan perkembangan gangguan mental.

1
2