Share

Benarkah Ganja Bisa Kurangi Risiko Depresi?

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 28 Juni 2022 12:45 WIB
$detail['images_title']
Mengalami depresi (Foto: Science new for student)

SEMAKIN banyak penggunaan ganja untuk keperluan medis. Bahkan sejak pandemi Covid-19, ganja dinilai dapat mengurangi risiko depresi atau stres selama pemberlakuan lockdown.

Seperti dilansir dari DW, ganja telah lama menjadi obat yang paling banyak digunakan di dunia dan penggunaannya terus meningkat.

 ganja

Kandungan tetrahydrocannabinol (THC) pada ganja juga semakin kuat. Hal ini diungkap Kantor PBB urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) dalam laporan tahunannya.

Menurut penelitian dalam Clinical Psychology Review (2017) terdapat bukti bahwa ganja bisa membantu mengatasi masalah kesehatan mental seperti membantu menghilangkan gejala depresi, dan dan gejala stres pasca-trauma.

Namun ganja tidak cocok untuk masalah kesehatan mental lain seperti bipolar dan gangguan psikosis. Tanaman hijau ini malah makin memperparah gejala mereka.

Meski mengandung kontroversi, sejumlah negara bagian Amerika Serikat telah melegalkan penggunaan ganja non-medis, dimulai dengan Washington dan Colorado pada tahun 2012. Kemudian disusu oleh negara Amerika Latin, Uruguay pada tahun 2013, seperti halnya Kanada pada tahun 2018.

 BACA JUGA:7 Negara yang Melegalkan Ganja untuk Keperluan Medis, Mana Saja?

Laporan tersebut mengatakan, legalisasi ganja tampaknya telah mempercepat tren penggunaan obat tersebut setiap hari. Ditambah dengan periode lockdown dan tingkat depresi yang meningkat melambungkan konsumsi ganja di dunia.

"Periode lockdown selama pandemi Covid-19 mendorong peningkatan penggunaan ganja pada 2020," tulis laporan tersebut.

Sedangkan, prevalensi penggunaan ganja di kalangan remaja tidak banyak berubah.

Meski banyak negara sudah melegalkan ganja untuk keperluan medis, Pemerintah Indonesia masih melabeli ganja sebagai tanaman ilegal dan punya konsekuensi hukum yang serius jika coba-coba menanamnya sendiri.

1
2