Share

Kecemasan Hingga Agresif, Ancaman Kesehatan Anak Ketika Terlalu Sering Terpapar Gawai

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 25 Juni 2022 08:00 WIB
$detail['images_title']
Anak bermain gadget (Foto: Freepik)

DI jaman yang semakin digital dan modern, sering dijumpai jika anak-anak sekarang begitu ketergantungan dengan perangkat gawai. Baik itu ponsel, tablet, atau pun komputer.

Seringkali kita mendapati, anak-anak melakukan aktivitas sehari-hari dengan ditemani perangkat gawai. Misalnya, makan di meja makan sambil menatap layar tablet, istirahat di kamar sambil bermain ponsel, atau terlalu lama menatap layar komputer karena bermain games.

Terlebih lagi di masa pandemi ini, saat aktivitas sosial bersama orang lain jadi begitu berkurang. Dari suatu studi di Inggris menyebutkan, device time atau waktu dengan perangkat gawai masyarakat meningkat tajam semenjak pandemi Covid-19. Akhirnya berpengaruh pada kebiasaan mengonsumsi makanan junk food hingga depresi.

Dalam studi tersebut diungkapkan, anak-anak berusia 6 hingga 10 tahun jadi kelompok usia yang paling meningkat, dengan bertambah satu jam 23 menit per harinya.

BACA JUGA:Vitiligo Bukan Hanya Masalah Estetika Semata, Benarkah Risiko Tinggi Kanker Kulit?

BACA JUGA:Viral Seorang Perempuan Nyesal Suntik Putih, Simak Risikonya!

Hasil studi di atas, sepatutnya jadi perhatian orang tua. Sebab, device time, atau waktu menggunakan gadget (gawai) begitu berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental anak loh!

Profesor Shahina Pardhan, dari Anglia Ruskin University mengatakan bahwa anak-anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menatap layar perangkat gawai, lebih cenderung mengonsumsi makanan sampah yang tidak sehat, memiliki masalah mata, mengembangkan kecemasan atau menjadi agresif dan tantrum, seperti dikutip The Sun, Sabtu (25/6/2022).

“Ada bukti jelas bahwa waktu layar harus dikurangi sedapat mungkin untuk meminimalkan hasil negatif,” kata Prof Shahina, dalam jurnal EclinicalMedicine.

Sementara untuk orang dewasa, terlalu banyak menggunakan gawai disebutkan menimbulkan peluang risiko depresi, kesepian, kelelahan, bahkan hingga kenaikan berat badan yang akhirnya mempengaruhi kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh.

1
2