Share

Antisipasi Kemungkinan Terburuk, IDI Segera Bentuk Satgas Cacar Monyet dan Hepatitis Akut

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 22 Juni 2022 12:28 WIB
$detail['images_title']
IDI Bakal Bentuk Satgas Cacar Monyet dan Hepatitis Akut (Foto Ilustrasi: Shutterstock)

KETUA Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Adib Khumaidi mengatakan bahwa pihaknya akan membuat Satgas monkeypox atau cacar monyet hingga hepatitis akut. Satgas tersebut akan berisikan anggota organisasi profesi IDI.

"Kami akan membuat Satgas yang berisikan anggota organisasi profesi IDI. Ini diharapkan dapat mengantisipasi penyakit pandemi maupun endemi, termasuk juga penyakit hepatitis akut dan cacar monyet," kata Adib pada awak media di Kantor PB IDI, Jakarta Pusat, kemarin (21/6/2022).

Hepatitis akut sendiri hingga sekarang penyebabnya masih misterius. Meski begitu, Satgas tetap diperlukan untuk terus mengantisipasi keparahan terjadi.

Cacar Monyet

Pun juga dengan cacar monyet, kata Adib, sekalipun kasusnya belum ditemukan di Indonesia, tapi Satgas tetap diperlukan untuk mencegah penyakit itu masuk dan mengantisipasi hal terburuk misal kasusnya ditemukan di Indonesia.

BACA JUGA : Kemenkes Pastikan Kasus Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia

Sejauh ini, Satgas Covid-19 IDI sudah ada dan diharapkan peran organisasi profesi ini bisa maksimal di masyarakat, sehingga BA.4 dan BA.5 tidak menjadi gelombang keempat yang diprediksi terjadi pada akhir Juli.

BACA JUGA : Gejala Baru Cacar Monyet, Salah Satunya Pendarahan Dubur

Di sisi lain, Dokter Spesialis Paru dr Agus Dwi Susanto, Sp.P, menjelaskan bahwa Indonesia tak hanya menghadapi masalah Covid-19, tetapi ada beberapa penyakit menular lainnya yang tetap harus jadi perhatian.

"Hepatitis akut misalnya. Itu adalah penyakit menular yang perlu jadi perhatian karena kasusnya perlahan terus bertambah. Kami dari PB IDI akan terus melakukan kajian dan mengeluarkan rekomendasi untuk mengantisipasi kondisi terburuk," terang dr Agus.

Lalu, soal cacar monyet meski kasusnya belum ada tapi Satgas Cacar Monyet nantinya akan tetap mengeluarkan rekomendasi untuk upaya pencegahan. Ini penting sehingga kesadaran akan menjaga kesehatan semakin tinggi di masyarakat.

Lebih lanjut, Indonesia sendiri masih berjuang melawan penyakit musiman seperti DBD, pun malaria yang masih banyak ditemukan di Indonesia Timur. "Penyakit ini belum dapat dieliminasi atau dihilangkan kasusnya, sehingga kami punya tugas untuk terus mengedukasi masyarakat," sambungnya.

Kasus Tuberkulosis atau TBC juga masih ditemukan di Indonesia. Bahkan, Indonesia tercatat sebagai negara nomor 3 terbesar penyumbang kasus TBC di dunia. PB IDI tentunya akan berupaya menangani kasus tersebut secara maksimal, selagi edukasi terus diberikan.

"Kami sebagai organisasi profesi harus proaktif memberikan upaya pencegahan dan penanganan yang optimal. Edukasi ke masyarakat terkait penyakit-penyakit tersebut harus terus dilakukan," tambah dr Agus.

1
2