Share

Idap Endometriosis, Mahasiswi 23 Tahun Ini Alami Menopause Sementara

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 20 Juni 2022 14:31 WIB
$detail['images_title']
Ella Collings, (Foto: Supplied)

KATA menopause identik dengan perempuan yang sudah berusia lanjut, biasanya memang sudah memasuki usia pra-lansia.

Jangan salah, ternyata kondisi menopause juga bisa dialami oleh perempuan berusia muda, di awal 20-an. Seperti yang dialami mahasiswi di Australia bernama Ella Collings ini.

Sejak usia 12 tahun Ella sudah rutin mengalami sakit di bagian perutnya, rasa sakit yang membuat dirinya dilarikan ke unit gawat darurat rumah sakit. Bertahun-tahun merasakan sakit, kala itu pihak rumah sakit menyebut kondisi tersebut sebagai sakit nyeri menstruasi biasa.

Setelah hampir 10 tahun, akhirnya Ella menemukan dokter yang memeriksa dirinya lebih detail. Hanya dalam waktu satu pekan, ketika usia Ella baru menginjak 20 tahun, sang dokter mendiagnosa Ella mengidap endometriosis.

(Ella Collings, foto: Supplied)

Gangguan menyakitkan yang menyebabkan ada jaringan tumbuh di luar ovarium dan dalam beberapa kasus langka, jaringan itu bisa menyebar ke luar area reproduksi wanita. Mahasiswi ilmu keperawatan ini kemudian menjalani prosedur laparoskopi. Hasilnya, Ella didiagnosis telah mengidap endometriosis stadium empat.

Tak menyerah, Ella kemudian mencoba mencari second opinion dari dokter lain. Ia juga mencoba tindakan Botox pinggul, periksa ke naturopath dan bahkan mengubah pola dietnya. Semua usaha Ella memang berhasil meredakan sedikit rasa sakitnya, meski tak benar-benar hilang seluruhnya.

Kabar buruk bagi Ella tak berhenti sampai sini, diagnosis endometriosis berlanjut dengan kelainan lainnya yakni infertilitas dan menopause yang mengakibatkan banyak operasi invasif, mengutip 7News Au, Senin (20/6/2022).

BACA JUGA:Tips Cegah Migrain Kambuh, Kepala Gak Sakit Cekot-Cekot Lagi!

BACA JUGA:Gitaris Senior Donny Suhendra Sempat Sakit Asma Sebelum Meninggal, Apa Saja Gejalanya?

Ella mengaku dirinya selalu ingin menjadi seorang ibu, dengan menyadari kondisi kesehatannya, Ella memutuskan untuk membekukan sel telurnya. Pasca berkonsultasi dengan dokter, Ella diketahui akan menjalani laparoskopi ketiga dan keempatnya untuk mengangkat jaringan yang terkena dan ketika pulih, barulah dokter akan mengumpulkan dan membekukan sel telurnya.

Selanjutnya, indung telur Ella perlu waktu istirahat, rehat dari stres karena kondisinya dan operasi yang sedang berlangsung. Maka dokter akan menanamkan obat pelepasan lambat yang akan menempatkan Ella dalam kondisi menopause sementara.

Setelah operasi dan pemulihan yang baik, barulah Ella mulai menyuntikkan hormon ke dirinya sendiri untuk membantu ovulasi, bertujuan untuk mengumpulkan sel telurnya. Ella kini disebutkan sukses membekukan sekitar 36 telur. Selama empat bulan terakhir, Ella hidup dengan kondisi sebagai perempuan menopause.

Ella sekarang hanya bisa mengelola rasa sakit endometriosisnya yang saat ini telah menyebar ke ususnya, dan berharap indung telurnya mendapatkan istirahat yang layak. Beberapa bulan ke depan, ia berharap sudah bisa keluar dari situasi menopause.

1
3