Share

Dokter Reisa Sebut Kematian Akibat BA.4 dan BA.5 Sepersepuluh dari Omicron Versi Awal

Kevi Laras, Jurnalis · Senin 20 Juni 2022 13:16 WIB
$detail['images_title']
Infeksi Covid-19 (Foto: Freepik)

MESKI disebut lebih gampang untuk masuk ke tubuh manusia, namun tingkat keparahan dari subvarian BA.4 dan BA.5 dikatakan tidak terlalu membahayakan seperti varian Delta atau Omicron versi awal.

Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro menyampaikan bahwa angka kematian dari subvarian baru ini, berkisar di angka sepersepuluh dari varian Omicron original versi awal.

"Diketahui jumlah kematian yang diakibatkan sepersepuluh dibandingkan varian omicron awal,” ungkap dr Reisa Broto Asmoro dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (20/6/2022)

Masih dari keterangan dokter Reisa, dilaporkan tingkat perawatan pasien positif di rumah sakit masih terbilang rendah dan bila terinfeksi, mayoritas hanya bergejala ringan.

 “Hingga kini dari jumlah pasien yang terinfeksi hanya mengalami gejala ringan, hanya ada satu yang mengalami gejala sedang dengan keluhan batuk, sesak napas, sakit kepala, mual muntah dan nyeri perut," lanjutnya.

Sebagai upaya memproteksi diri dalam menghadapi kenaikan angka kasus positif yang saat ini bahkan sudah menembus lebih dari 1000 per hari, dokter Reisa mengimbau masyarakat segera melakukan vaksinasi dosis ketiga atau booster, agar bisa menurunkan risiko kesakitan dan kefatalan bila terinfeksi Covid-19.

“Maka untuk menghadapi kenaikan kasus yang belakangan ini terjadi dan ke depannya, booster baru mencapai sekitar 48 juta orang hingga saat ini perlu segera ditingkatkan," tegasnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan dr. Reisa, capaian vaksinasi booster di Indonesia sejauh ini masih rendah yaitu 22,71 persen. Sedangkan capaian vaksinasi dosis lengkap sudah berada di angka 80,55 persen.

1
2