Share

Sarwendah Operasi karena Sering Migrain, Seberapa Bahaya dan Apa Dampak Jika Dibiarkan Terlalu Lama?

Syifa Fauziah, Jurnalis · Sabtu 18 Juni 2022 20:40 WIB
$detail['images_title']
Sarwendah sering alami migrain (Foto: Instagram @sarwendah29)

BELUM lama ini Sarwendah dilarikan ke rumah sakit karena mengidap sakit kepala sebelah atau migrain. Dalam keterangannya di YouTube The Onsu Family, ibu tiga anak itu mengaku sudah menderita migrain sejak lama.

Awalnya istri Ruben Onsu itu hanya memeriksa sakit kepalanya dengan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI), namun ternyata berujung harus menjalani operasi.

Sakit migrain ini sendiri dibagi menjadi dua tipe, migrain aura dan tanpa aura. Biasanya migrain aura memang lebih berat, karena sebelum merasa pusing ada gejala yang mendahului.

Apa yang dialami Sarwendah ini, tentu menimbulkan pertanyaan, memang seberapa besar sih bahaya dari migrain?

Dokter Satgas Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda'i menyebut migrain yang merupakan suatu penyakit sakit kepala tersebut, bisa menjadi kegawatan yang cukup berat bila diiringi dengan gangguan saraf.

Jika ini terjadi, bukan hanya kepala yang merasakan sakit, tapi juga berdampak pada organ tubuh lain.

"Misalnya diiringi gangguan saraf. Matanya susah membuka, lapang pandangnya sempit, ada kelemahan di lidah. Stroke gejalanya juga bisa migrain, tapi itu jarang," tutur dr. Fajri, kepada MNC Portal saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (18/6/2022).

Dokter Fajri memperingatkan, migrain jangan dipandang sebelah mata. Orang yang kerap mengalami migrain, sejatinya harus melihat beberapa tanda peringatan (warning signs). Sinyal inilah yang menjadi indikator kalau memang kondisinya berat dan harus ke rumah sakit.

“Misalnya seperti sakit kepala yang cukup hebat yang sebelumnya belum pernah dialami dan yang kedua adalah tiba-tiba tidak bisa bicara dan cadel,” tambahnya.

"Selain itu leher kaku, memang biasanya meningitis, tapi bisa juga disebabkan migrain. Biasanya juga diikuti dengan demam. Nah kalau stroke itu lumpuh, kepala sakit cekot-cekot, lidahnya lemas, muka dan kakinya lemas, itu harus dibawa ke IGD," lanjutnya.

Dokter Fajri menyarankan ketika memiliki gejala migrain, sebaiknya harus menghindari penyebab pemicunya. Bila minum obat tidak juga sembuh, sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit agar segera diberi penanganan.

BACA JUGA:Sarwendah Dioperasi karena Sering Migrain, Ini 5 Penyebab yang Bisa Bikin Makin Parah!

BACA JUGA:22% Warga Indonesia Kena Migrain, Coba Atasi dengan Akupunktur

1
2