Share

Mengenal Gejala Epilepsi dan Bagaimana Cara Mencegahnya

Kevi Laras, Jurnalis · Sabtu 18 Juni 2022 18:45 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi gejala epilepsi (Foto: Freepik)

SECARA umum orang yang mengalami kejang-kejang disebut ayan. Secara medis, penyakit ini sebenarnya merupakan penyakit epilepsi.

Epilepsi merupakan gangguan sistem saraf (neurologis), di mana aktivitas otak menjadi tidak normal, menyebabkan kejang. Kejang memang gejala utama epilepsi, namun, gejala bisa berbeda dari orang ke orang dan sesuai dengan jenis kejang.

Melansir Healthline yang sudah ditinjau secara medis oleh ahli saraf, Dr. Nancy Hammond, M.D, kejang yang jadi gejala utama epilepsi ini dibagi dalam beberapa bagian. Pertama kejang focal sebagian, di sini pasien tidak hilang kesadaran tapi mengalami perubahan pada indera perasa, penciuman, penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, pusing, kesemutan dan kedutan pada anggota badan.

Kejang focal tidak sadar yang bisa hilangnya kesadaran ditambah gejala lain, tatapan kosong, tidak responsif, melakukan gerakan berulang.

Lalu ada juga yang disebut kejang umum yang melibatkan seluruh otak, di dalamnya ada petit mal seizures hilang kesadaran sebentar, tatapan kosong, dan dapat menyebabkan gerakan berulang seperti menampar bibir atau berkedip. Kejang tonik yakni otot-otot di kaki, lengan, atau tubuh mendadak kaku.

Selanjutnya ada kejang atonik yang menyebabkan hilangnya kontrol otot. Sehingga bisa membuat orang dengan epilepsi jatuh secara tiba-tiba. Ada juga kejang klonik ditandai dengan gerakan otot yang tersentak-sentak berulang pada wajah, leher, dan lengan.

Follow Berita Okezone di Google News

Sementara kejang mioklonik ialah kejang yang menyebabkan kedutan spontan pada lengan dan kaki. Terakhir ada kejang tonik-klonik, gejalanya meliputi tubuh kaku, gemetarkehilangan kontrol kandung kemih atau usus, menggigit lidah dan penurunan kesadaran.

Dalam kebanyakan kasus, seseorang dengan epilepsi akan cenderung memiliki jenis kejang yang sama setiap kali, sehingga gejalanya akan serupa dari episode ke episode berikutnya.

Lalu apakah epilepsi ini bisa dicegah? Jawabannya iya, Profesor Taruna Ikrar, Direktur International Association of Medical Regulatory Authorities (IAMRA) menyebutkan pecegahan bisa dilakukan dengan memenuhi kebutuhan otak.

"Berdasarkan penyebabnya maka pencegahan yang paling penting adalah kita tentu bagaimana suplai daripada otak itu sendiri,” ujar Prof. Taruna kala dihubungi MNC Portal, Sabtu (18/6/2022).

“Perlu dipahami otak sangat sensitif terhadap traumatik, otak juga sensitif terhadap kekurangan oksigen dan cairan. Otak juga sangat sensitif pada zat-zat beracun. Oleh karena itu untuk mencegahnya terjadinya kejang, bagaimana kesehatan menjaga kesehatan otak itu sendiri," lanjutnya.

Selain itu, cara pencegahan lain yang bisa dilakukan yakni mulai dari memenuhi kebutuhan oksigen, menjaga kepala tidak terbentur, menjauhi lingkungan yang tidak bersih, seperti adanya karbondioksida dan monoksida merupakan zat racun.

BACA JUGA:Pelaku FWB, Waspadai Kutil Kelamin yang Suka Muncul Tanpa Gejala!

BACA JUGA:Gejala Baru Cacar Monyet, Salah Satunya Pendarahan Dubur

1
3