Share

Nikita Willy Alami Depresi Pasca Melahirkan, Apa Bedanya dengan Baby Blues?

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 16 Juni 2022 12:05 WIB
$detail['images_title']
Nikita Willy (Foto: Instagram/@nikitawilly_indrapriawan)

NIKITA Willy terlihat bahagia menjalani perannya sebagai seoraang ibu jika dilihat postingan di Instagram. Tapi, siapa sangka, ternyata Nikita Willy sempat mengalami depresi pasca melahirkan atau postpartum depression.

Hal tersebut terungkap ketika Nikita Willy melakukan sesi tanya jawab dengan follower Instagram-nya. Nikita mengakui diri mengalami depresi pasca melahirkan baby Izz. Perubahan yang dirasakannya adalah jadi lebih sensitif, mudah menangis, dan galau.

"Pasca melahirkan perubahan hormon, capek, kurang tidur buat kita lebih sensitif. Jadi pasti gampang nangis dan galau," tulis istri Indra Priawan itu.

Nikita Willy

(Nikita Willy, Foto: @nikitawillyofficial94/Instagram)

Depresi pasca melahirkan atau postpartum depression sendiri adalah bentuk depresi yang dapat muncul dalam rentang waktu sejak masa kehamilan hingga setahun setelah kelahiran anak, dikutip dari Klikdokter.

Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan keluhan pada wanita atau ibu yang bersalin. Namun ternyata kondisi bisa terjadi pada setiap orang tua, baik ibu maupun ayah, bahkan pada orang tua adopsi.

Seseorang dengan postpartum depression dapat merasa sedih yang sangat berat, merasa sangat cemas, atau merasa putus asa. Gejalanya yang muncul dapat berupa munculnya mood depresi, mudah menangis, merasa tidak bahagia, sulit tidur, merasa lelah terus, gangguan nafsu makan, timbul pikiran untuk bunuh diri, dan pemikiran berulang mengenai kematian.

BACA JUGA : Mengenal Depresi Pasca Melahirkan seperti Dialami Nikita Willy dan Penyebabnya

BACA JUGA : Nikita Willy Alami Depresi Pasca Melahirkan, Apa Saja Gejalanya?

Lantas apa bedanya dengan baby blues?

Baby blues dan depresi pasca melahiran merupakan hal yang berbeda. Dalam penjelasan dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid, Sindrom baby blues adalah gangguan adaptasi yang dialami oleh ibu baru. Keadaan ini biasanya terjadi dalam beberapa hari hingga dua minggu setelah melahirkan.

Seorang ibu yang mengalami sindrom baby blues ditandai dengan rasa lelah, sedih yang tak jelas penyebabnya, serta stres berlebih. Hal ini biasanya terjadi karena ibu terkejut dengan berbagai perubahan drastis tak diduga sebelumnya. Selain itu, suami yang kurang peka terhadap istri yang baru melahirkan juga bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom baby blues.

Seorang ibu yang mengalami sindrom baby blues tetap bisa merawat si buah hati dengan optimal meski sering kelelahan atau merasa sedih berlebihan. Kendati begitu, kondisi ini tetap harus diatasi.

Jika diabaikan, sindrom baby blues dapat berlanjut menjadi depresi pasca melahirkan. Faktanya, satu dari tujuh ibu baru pernah mengalami gangguan ini.

Bagaimana solusinya?

Meski gangguan psikis ini sering terjadi pada ibu baru, sindrom baby blues maupun depresi pasca melahirkan dapat diatasi dan dicegah. Untuk mengatasi sindrom ini, ibu harus diberi banyak waktu untuk beristirahat. Ayah atau anggota keluarga lain sebaiknya mengambil alih sebagai 'pemeran utama' dalam merawat bayi untuk sementara waktu. Berikan ibu 'me-time' untuk mengurangi stres yang dirasakan.

Sementara untuk depresi pasca melahirkan, di samping melakukan hal-hal tersebut, berkonsultasi dengan psikiater merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Psikiater akan memberikan obat anti-depresan dan melakukan konseling pada ibu maupun keluarga. Pengobatan pada ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan harus diprioritaskan. Sebab jika tidak diobati dengan baik, ibu bisa mengalami gangguan jiwa yang berat.

Hal yang tak kalah penting adalah mengerti bagaimana cara mencegah sindrom baby blues dan depresi pasca melahirkan. Pencegahan terhadap gangguan psikis ini harus dimulai saat kehamilan, yaitu dengan cara:

- Ibu harus melengkapi diri dengan pengetahuan yang cukup tentang perawatan bayi sejak masa kehamilan

- Membuat 'perjanjian' mengenai pembagian peran dan tugas dalam mengurus bayi dengan suami

- Jika diperlukan, ibu dapat meminta bantuan orang lain seperti anggota keluarga, doula, atau baby sitter untuk membantu merawat bayi.

Setelah itu semua, ibu sebaiknya memiliki waktu untuk dirinya sendiri setidaknya selama satu jam per hari untuk dapat melepas penat dan lelah usai melahirkan.

Merawat dan membesarkan bayi bukan hanya tanggung jawab ibu seorang diri, melainkan juga tanggung jawab ayah dan anggota keluarga lainnya. Membekali diri dengan pengetahuan tentang perawatan bayi dan berbagi peran yang baik antara ayah maupun ibu merupakan kunci penting untuk mencegah serta mengatasi sindrom baby blues serta depresi pasca melahirkan.

1
2