Share

Kemenkes Bersiap Hadapi Kenaikan Kasus Covid-19 Akibat Varian BA.4 dan BA.5

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 15 Juni 2022 19:09 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Pandemi Covid-19. (Foto: Shutterstock)

VARIAN BA.4 dan BA.5 memang telah masuk ke Indonesia, bahkan ditemukan di beberapa orang di Jakarta. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun memprediksi bahwa puncak penularan akan terjadi pada minggu ketiga Juli 2022.

Sekertaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini varian BA.4 dan BA.5 di Indonesia masih terpantau kondisinya terkendali. Meskipun sudah ditemukan kasus pasien yang tertular varian tersebut.

"Variannya sudah ada, saat ini ditemukan ada 8 kasus. 5 dari pelaku perjalanan luar negeri, dan 3 tanpa riwayat perjalanan luar negeri," katanya saat dihubungi MNC Portal, Rabu (15/06/22).

Nadia melanjutkan, semua pasien yang terpapar varian tersebut mereka gejala ringan. Serta juga tidak ada yang bergejala, diperkirakan durasi sakit ssat melakukan isolasi mandiri antara 3 sampai 5 hari.

Lebih lanjut, saat ini pemerintah melalui Kemenkes terus memonitoring perkembangan varian omicron BA.4 dan BA.5 apabila kasus ini nantinya akan naik. "Jadi monitoring terus dilakukan, termasuk memantau kenaikan kasus ataupun kasus berat yang dirawat di rumah sakit," katanya.

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria atau Ariza mengakui adanya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 meningkatkan kasus positif Covid-19 di Ibu Kota. Oleh karenanya saat ini, Ariza menekankan warga DKI Jakarta untuk tetap taat protokol kesehatan (prokes) meski telah adanya pelonggaran pemakaian masker di tempat terbuka.

"Sekarang sedang ada peningkatan (kasus positif) di Jakarta. Tetapi yang paling penting sekarang masyarakat lebih hati-hati. Laksanakan prokes sekalipun sudah ada pelonggaran di tempat terbuka boleh buka masker tetap hati-hati cuci tangan, jaga jarak, dan perhatikan prokes. Kita jadi harus tetap lebih hati-hati lagi," ujar Ariza.

Menurutnya, peningkatan kasus tersebut terkonfirmasi karena adanya subvarian Omicron yang terbaru, yaitu BA.4 dan BA.5. Namun dirinya menegaskan subvarian tersebut tidak berbahaya seperti Delta.

1
2