Share

Bukan Cuma Bintik Merah, Ini Gejala Demam Berdarah Pada Anak yang Patut Diwaspadai

Syifa Fauziah, Jurnalis · Rabu 15 Juni 2022 13:43 WIB
$detail['images_title']
Nyamuk Aedes Aegypti (Foto: Freepik)

DENGUE merupakan salah satu virus yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit yang ditimbulkan virus ini, yaitu demam berdarah dengue (DBD) memang sangat familiar dengan masyarakat Indonesia.

Kasus penyakit demam berdarah di Indonesia sendiri, jumlahnya masih tinggi. Hal itu juga diikuti dengan masuk musim penghujan di sejumlah wilayah. Virus dengue juga banyak menyerang anak kecil hingga remaja. Apalagi ditambah dengan sifatnya yang bisa menular di area yang sama, tak heran bila banyak kasus satu keluarga terinfeksi virus dengue dan akhirnya sakit demam berdarah.

Penyakit DBD sangat membahayakan karena dapat mengancam nyawa seseorang, yang salah satunya bisa dipicu karena terlambat mendapat penanganan yang tepat.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro Sp,A(K) mengatakan virus dengue ini belum ada obatnya, sehingga harus diketahui gejala penularan agar tindakan pengobatannya tidak terlambat. Ia menjelaskan demam berdarah dengue hadir dengan tiga fase. Fase pertama diawali dengan demam yang terjadi satu sampai tiga hari.

“Di fase awal ini harus diberikan suportif terapi. Karena kalau dibiarkan akan memasuki fase kritis,” jelasnya saat dalam pemaparan di acara ASEAN Dengue Day atau Hari Demam Berdarah (DBD) ASEAN 2022, Rabu (15/6/2022).

 BACA JUGA:Demam Tinggi Menyerang, Benarkah Selalu Tanda DBD?

BACA JUGA:Perlunya Vaksin Dengue untuk Cegah Penyebaran DBD

Setelah masuk fase pertama, biasanya seseorang atau anak yang terkena DBD akan mengalami nyeri kepala, pendarahan, nyeri otot, muntah, diare hingga bercak di kulit. Selanjutnya, pada hari keempat hingga hari ketujuh, sudah mulai masuk fase kritis.

Fase kritis sendiri masuk di hari ke 4-7. Fase ini akan menyebabkan seseorang mengalami kebocoran pada plasma, tekanan darah turun sehingga menyebabkan shock, hingga penggumpalan cairan di rongga perut.

Barulah setelah itu, mulai masuk periode pemulihan karena virus dengue berangsur menghilang.

“Kemudian masuk fase penyembuhan. Pasien sudah mulai sadar, denyut jantung membaik, dan virus sudah mulai menghilang,” lanjutnya.

Patut diwaspadai, gejala demam berdarah ini memang tidak berbeda jauh dengan gejala flu. Tapi, yang bisa dilihat adalah demam berdarah punya yang disebut dengan warning sign. Warning sign ini akan timbul setelah demam.

“Biasanya pasien akan mengalami nyeri perut, pembesaran hati, adanya cairan di paru-paru, gelisah, lemas, hingga tidak mau makan dan minum,” kata Prof. Sri Rezeki lagi.

Menurut Prof. Sri Rezeki, untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus dengue atau tidak bisa dilihat dari warning sign tersebut. Ia mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sinyal peringatan ini, agar pasien DBD masih bisa tertolong.

“Cara ini agar tidak terlambat diobati, karena banyak sekali pasien yang terlambat dan akhirnya kesulitan diobati. Kalau datang di fase awal demam masih bisa tertolong,” pungkasnya. 

1
2