Share

Tes Darah Versi Baru, Bisa Cek Seberapa Rentan Seseorang Terinfeksi Covid-19

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 15 Juni 2022 10:20 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi tes darah ( Foto: Freepik)

TINGKAT kerentanan seseorang untuk terinfeksi Covid-19, saat ini kabarnya bisa dilihat melalui tes darah versi terbaru.

Menurut suatu studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Biotechnology tersebut, tes darah versi yang baru dikembangkan ini bekerja dengan cara mengukur respons imun spesifik dalam tubuh seseorang. Sehingga dapat membantu dokter untuk mengukur seberapa besar perlindungan yang dimiliki seseorang terhadap Covid-19, seperti dikutip dari NBC News, Rabu (15/6/2022).

Tes darah tersebut berfokus pada bagian dari sistem kekebalan yang memberikan perlindungan jangka panjang dengan mendorong tubuh untuk "mengingat" virus. Sehingga bisa membantu memahami jalinan kompleks kekebalan Covid yang sekarang ada dari orang ke orang.

Lewat tes darah baru ini, bisa digunakan untuk mengukur kekebalan pada seseorang. Terlepas apakah orang tersebut sudah punya perlindungan dari satu atau lebih infeksi Covid-19 alami atau imunitas yang didapatkan dari vaksinasi dan booster Covid-19.

“Idealnya, ini akan memberi Anda gambaran lengkap tentang di mana posisi diri kita dan gambaran komprehensif tentang perlindungan kekebalan yang kita miliki," kata Profesor Ernesto Guccione salah satu penulis studi.

Tidak hanya itu, Ernesto yang juga merupakan profesor ilmu onkologi dan ilmu farmakologi di Tisch Cancer Institute di Mount Sinai tersebut, menyebut tes darah model baru ini juga bisa dilakukan pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu, misalnya orang dengan penyakit autoimun.

“Orang yang mungkin memiliki tingkat perlindungan yang jauh lebih rendah, karena kekebalannya terganggu, juga bisa menggunakan tes ini untuk menilai kerentanan diri mereka dan melihat bagaimana mereka merespons vaksin,” lanjutnya.

Tes darah dilakukan dengan cara pengambilan sampel darah kecil lalu mencampurnya dengan potongan protein dari virus, peneliti kemudian melihat apakah sel T diaktifkan dalam sampel. Sel T ini sendiri merupakan landasan atau dasar dari memori jangka panjang sistem kekebalan, dan biasanya sel T akan menunggu sampai sel ini bisa mendeteksi keberadaan sesuatu hal asing yang masuk menyerang tubuh.

Pada studi sebelumnya, didapati kalau sel T ternyata bisa mengenali semua varian virus penyebab infeksi Covid-19 yang diketahui, termasuk Omicron. Meski demikian, para ilmuwan masih terus menyempurnakan tes dan mempelajari seberapa baik sel T merespons terhadap varian yang berbeda.

BACA JUGA:Muncul Varian BA.4 dan BA.5 di Indonesia, Bagaimana Nasib Aturan Penggunaan Masker?

BACA JUGA:Varian BA.4 dan BA.5 Jadi Ancaman, Vaksin Booster Solusi Efektif?

"Data yang keluar sejauh ini sangat menggembirakan. Kabar baiknya adalah kita mengembangkan kekebalan terhadap banyak protein dari virus, dan banyak dari mereka cenderung tidak dimutasi oleh variannya,” tambah Profesor Ernesto.

Tidak seperti tingkat antibodi yang dapat berkurang setelah vaksinasi atau infeksi, sel T disebut bisa mengingat virus bertahun-tahun dan terkadang beberapa dekade kemudian.

Memori sel T tersebut bisa diperoleh entah melalui vaksinasi atau infeksi, sel T siap untuk "mengingat" fragmen virus, termasuk dari varian yang bisa menghindari sistem antibodi. Artinya, sel T tidak akan menghentikan terjadinya infeksi, tetapi dapat mencegah orang yang terinfeksi Covid-19 menjadi sakit parah.

Tes untuk mendeteksi sel T biasanya adalah tes terbatas di laboratorium untuk tujuan penelitian, dan prosesnya biasanya mahal dan sulit dilakukan dalam skala besar. Tes kit baru ini, dirancang untuk digunakan secara lebih masif dan hasilnya bisa keluar dalam waktu kurang dari 24 jam,

Meski masih dibutuhkan lebih banyak penelitian, tetapi Profesor Ernesto menyebut keakuratan tes darah baru ini hasilnya sebanding dengan tes serupa yang dilakukan di laboratorium penelitian. Selanjutnya, para peneliti berharap lewat tes darah baru ini bukan hanya bisa mendeteksi aktivasi sel T, tapi juga bisa memberikan detail yang lebih terperinci, misalnya tentang besaran dan durasi kekebalan seseorang terhadap infeksi Covid-19.

Tes darah model baru ini diketahui dikembangkan oleh para peneliti di Mount Sinai dan Duke-NUS Medical School di Singapura dan tersedia untuk komersial di Eropa.

Disebutkan lebih lanjut, selanjutnya para peneliti fokus pada uji klinis untuk bisa mendapatkan persetujuan dari otoritas badan pengawas obat dan makanan AS, Food and Drug Administration(FDA) serta otoritas kesehatan Uni Eropa, European Medicines Agency.

1
3