Share

Wacana Harga Minuman Berpemanis dalam Kemasan Akan Naik Demi Kesehatan, Dokter: Ini Penting!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 07 Juni 2022 13:36 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi minuman berpemanis dalam kemasan (Foto: Freepik)

Lembaga Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) merekomendasikan agar pemerintah menetapkan kebijakan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

Kebijakan cukai yang nantinya akan berpengaruh pada kenaikan harga ini, disebut demi kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Cukai yang direkomendasikan CISDI untuk MBDK adalah Rp2.500 per liter. Nominal tersebut dianggap bisa menekan laju konsumsi minuman pemanis dalam kemasan di kalangan masyarakat.

Hal ini menjadi salah satu upaya pencegahan penyakit tidak menular (PTM) bisa efektif berjalan di masyarakat, khususnya anak usia 5 sampai 18 tahun yang jadi konsumen terbesar MBDK.

"Berdasarkan data yang kami miliki, konsumen MBDK di Indonesia itu kebanyakan anak-anak dan remaja usia 5 sampai 18 tahun. Jika kebiasaan ini berlanjut, tidak menutup kemungkinan generasi penerus Indonesia rentan mengalami PTM, seperti obesitas, diabetes, pun masalah jantung," terang Plt Manajer Riset CISDI Gita Kusnadi dalam gelaran webinar virtual, Selasa (7/6/2022).

Follow Berita Okezone di Google News

Rencana kebijakan cukai MBDK ini ternyata direspons baik oleh kalangan medis, seperti dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

Sebagai dokter, mereka sepakat bahwa dengan membatasi asupan gula, bisa jadi upaya mencegah seseorang mengalami masalah kesehatan di kemudian hari.

Disampaikan dr Ario Kuncoro, SpJP, upaya menambahkan biaya cukai pada MBDK ini adalah langkah besar dan merupakan langkah awal untuk meningkatkan preventif penyakit jantung dan pembuluh darah.

"Terlebih, jika mengacu pada kasus jantung dan pembuluh darah di Indonesia, beban biaya yang ditanggung oleh negara akan penyakit ini sangat besar. Jadi, jika upaya preventifnya dimaksimalkan, maka kasusnya pun akan sedikit, sehingga beban biaya pun akan berkurang," kata dr.Ario.

 

(Foto: CISDI)

Ia melanjutkan, memang ada kaitan yang cukup berarti antara lemak berlebih akibat konsumsi gula yang tidak terkontrol dengan masalah pada tekanan darah. 

"70 persen kasus hipertensi pada laki-laki dan 60 persen hipertensi pada perempuan itu berhubungan dengan penumpukan jaringan lemak yang berlebihan. Dengan begitu, jika kebijakan cukai MBDK ini diberlakukan, itu artinya kita semua mengarah ke sisi yang lebih baik, yaitu upaya preventif yang dimaksimalkan," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh dr Rudy Kurniawan, SpPD. Menurutnya dengan memberlakukan cukai MBDK, itu artinya bisa menekan jumlah konsumsi gula di masyarakat.

"Kebijakan cukai MBDK ini penting, bisa jadi langkah awal dan langkah konkrit kita semua menjalani pola hidup yang lebih sehat," katanya.

Dokter Rudy melanjutkan, dengan adanya cukai MBDK diharapkan pemerintah berperan melindungi masyarakat dari potensi beragam makanan yang tidak sehat, termasuk minuman pemanis dalam kemasan tersebut.

"Diperlukan ekosistem yang saling mendukung untuk terciptanya manusia yang lebih sehat, termasuk dengan keluarnya kebijakan cukai ini jika disahkan pemerintah," terang Ketua Sobat Diabet tersebut.

"Jika nantinya cukai MBDK benar-benar diberlakukan di Indonesia, itu bukan hanya baik bagi negara tapi secara khusus menjamin kesehatan rakyat, sekaligus cara pemerintah mengedukasi masyarakat untuk memilih dan mengonsumsi makanan dan minuman yang lebih sehat," pungkas dr.Rudy.

1
3