Share

Apakah Indonesia Siap Beralih ke Endemi? Menkes: Negara Tidak Bisa Memutuskan Sendiri

Kevi Laras, Jurnalis · Jum'at 03 Juni 2022 12:17 WIB
$detail['images_title']
Siap beralih menuju endemi (Foto: istock)

ISU pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1 di seluruh Indonesia, menarik perhatian publik. Sebab melihat adanya pelonggaran, diartikan sudah bisa atau tidak perlu adanya PPKM.

Masyarakat beranggapan sudah siap beralih ke fase endemi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan penjelasan jika negara tidak bisa memutuskan sendiri, terkait perlalihan fase dari pandemi ke endemi.

 Menkes

"PPKM level 1 itu kaya gini sebenarnya yang kita pantau dulu saja bagaimana transisi dari pandemi ke endemi. Jadi setiap negara tidak bisa memutuskan sendiri -sendiri ya," ujar Menkes Budi di Jakarta, Jumat (3/6/2022)

Menurutnya keputusan harus bersama organisasi kesehatan dunia (WHO). Namun, secara pribadi, Budi mengaku tidak masalah adanya PPKM level 1.

Menurutnya masih bisa beraktivitas dengan baik. Peralihan ke Endemi adalah terciptanya pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam menangani atau bisa mencegah penularan Covid-19.

 BACA JUGA: WHO Peringatkan Wabah Penyakit Endemik Akan Lebih Sering Terjadi di Masa Depan

"Untuk mengambil keputusan sebaiknya kita bekerja sama dengan WHO. Maksud dari endemi adalah di mana masyarakat sudah dapat mengontrol sendiri dan pemerintah tidak lagi mengimbau harus pakai apa. Jadi saya rasa saya pribadi tidak masalah level 1 atau ada PPKM karena sudah bisa beraktivitas," jelasnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro juga menegaskan jika wewenang yang mengubah status endemi ialah organisasi kesehatan dunia (WHO). Dengan melihat beberapa indikator, yang wajib dipenuhi untuk sebuah negara masuk fase endemi.

"Perlu kita harus ketahui, perubahan status pandemi ke endemi ini kan dilakukan oleh WHO. Nggak bisa Indonesia merubah status sendiri, sebabnya covid 19 ini wabah di banyak negara ini kota sebut pandemi," papar dr Reisa.

1
2