Share

Wamenkes Ingatkan Bahaya Rokok Elektrik Sama dengan yang Konvensional

Kevi Laras, Jurnalis · Kamis 02 Juni 2022 12:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi rokok elektrik (Foto: Freepik)

JAKARTA-Rokok elektrik di kalangan remaja hingga dewasa muda memang tengah populer menjadi tren beberapa tahun belakangan ini.

Melihat tren ini, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan masyarakat untuk tidak terlena dengan stigma bahaya rokok elektrik lebih kecil daripada rokok konvensional karena dinilai mengandung nikotin rendah

Ia menyebutkan, sebenarnya kandungan dalam rokok elektrik antara lain nikotin, zat kimia, serta perasa (flavour )sama-sama bersifat toxic atau racun. Sehingga tak ada beda, rokok elektrik dengan yang konvensional, sama-sama berbahaya.

"Merokok elektrik itu sama bahayanya dengan merokok konvensional. Tidak ada bedanya risiko merokok konvensional dan elektrik, dua-duanya sama bahayanya,” ujar Wamenkes Dante dikutip dari laman resmi Kemenkes, Kamis (2/6/2022).

Wamenkes Dante menambahkan, bahayanya bukan hanya dari segi kesehatan tapi juga ke aspek hidup yang lain.

“Bahayanya baik itu sekarang dari segi sosial ekonomi, mau pun untuk masa depan masalah penyakit yang mungkin timbul dari aktivitas merokok elektrik,” imbuhnya.

BACA JUGA:Peneliti Sebut Pengguna Rokok Elektrik Punya Risiko 2 Kali Lipat Alami Disfungsi Ereksi

BACA JUGA:Rokok Elektrik Vs Rokok Konvensional, Lebih Berbahaya Mana?

Survei dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 menunjukkan prevalensi perokok elektrik naik dari 0.3 persen (2011) menjadi 3 persen (2021). Kemudian, prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun juga meningkat sebesar 19,2 persen.

Menurut Wamenkes Dante, konsumsi rokok elektrik di kalangan remaja turut berdampak pada tingginya prevalensi perokok elektrik di Indonesia.

Jika tidak dihentikan, kebiasaan buruk merokok pada generasi muda dikhawatirkan kian meningkat serta menimbulkan kesehatan serius di masa depan.

Ia berharap, temuan data di lapangan ini bisa jadi media pembelajaran masyarakat untuk stop merokok dan mengakomodasikan uangnya untuk membeli makanan sehat bergizi seimbang.

"Temuan survei GATS ini diharapkan bisa menjadi sarana edukasi berbasis keluarga supaya orang mau berhenti merokok dan mau membelanjakan uangnya untuk makanan bergizi dan kegiatan bermanfaat dibandingkan membeli rokok,” harap Wamenkes Dante.

Sekadar informasi, rokok elektrik dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan masalah kesehatan serius. Mulai dari penyakit kardiovaskular, kanker, paru-paru, tuberkulosis, dan penyakit lainnya.

1
2