Share

Cegah Kanker Payudara, Kemen PPPA Dorong Perempuan Indonesia Lakukan SADARI

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 28 April 2022 06:00 WIB
$detail['images_title']
Deteksi dini kanker payudara dengan SADARI (Foto: Timesofindia)

DEPUTI Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Lenny N. Rosalin mengungkapkan, bahwa kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan jenis kanker yang memiliki kontribusi tertinggi terhadap prevalensi kanker kepada perempuan di Indonesia.

Oleh karena itu, kata dia, KemenPPPA mendorong masyarakat agar dapat lebih meningkatkan kesadaran terhadap resiko kanker payudara, dan melakukan deteksi dini dengan metode SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri), dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis).

Kanker Payudara

Berdasarkan data Globocan WHO pada 2020, total penderita kanker nasional sebanyak 0,14 persen dari jumlah penduduk Indonesia, dengan penderita kanker wanita lebih banyak dibanding laki-laki.

"Dan prevalensi kasus paling banyak dalam lima tahun terakhir adalah kanker payudara, yaitu sebanyak 201.143 kasus," kata Lenny dalam keterangan resminya.

BACA JUGA : Kenali Ciri-Ciri Kanker Payudara dari Stadium 1, 2, 3 dan 4

Lenny menambahkan, pada 2020 jumlah kasus baru kanker payudara di Indonesia mencapai 68.858 kasus (16,6 persen) dari total 396.914 kasus baru kanker, dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 22 ribu jiwa (Globocan WHO, 2020).

BACA JUGA : Prihatin, 70 Persen Pasien Kanker Payudara yang ke RS Sudah Stadium Lanjut

Sementara menurut data persentase kasus kanker terhadap penduduk Indonesia (Balitbangkes, 2019), kanker payudara memiliki persentase 19, 18 persen.

Deteksi Dini Kanker Payudara

“Oleh sebab itu, kita harus terus melakukan pencegahan terutama bagi para perempuan yang lebih berpotensi terkena resiko kanker payudara. Walaupun faktanya, kanker payudara juga berisiko dialami oleh laki- laki, meskipun kasusnya langka. Dilansir dari jurnal tentang Kanker Payudara pada Pria (Entan Teram Zettira, 2017) diperkirakan sekitar 1 dari 100.000 pria di seluruh dunia didiagnosis kanker payudara," tuturnya.

Lenny mengungkapkan, bahwa di Indonesia, terdapat 3 provinsi dengan prevalensi kanker payudara tertinggi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (2,4 persen atau 4.325 kasus), Kalimantan Timur (1,0 persen atau 1.879 kasus), dan Sumatera Barat (0,9 persen atau 2.285 kasus).

Penyebab tingginya prevalensi kanker payudara di 3 provinsi tersebut, salah satunya disebabkan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat akan deteksi dini dan pemeriksaan kanker payudara secara klinis. Sebesar 70 persen dideteksi sudah di tahap lanjut saat melakukan pemeriksaan.

“Perlu dilakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS), yang bertujuan untuk menemukan benjolan dan tanda- tanda lain pada payudara sedini mungkin agar dapat dilakukan tindakan secepatnya," ujarnya

Sementara itu Ketua Yayasan Kanker Indonesia dan Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD-KHOM menuturkan, pentingnya peran deteksi dini dalam penanganan kasus kanker payudara.

Sebagian besar penderita kanker payudara datang pada stadium sudah lanjut yaitu pada stadium 3 dan 4, padahal tingkat kesembuhan lebih tinggi bila ditemukan masih dalam stadium dini.

Ia menerangkan, untuk wanita usia 20 – 39 tahun, lakukan SADARI satu kali setiap bulan. Kemudian, bagi wanita usia 40 – 49 tahun, dapat melakukan SADARI satu kali setiap bulan, SADANIS setiap tahun, dan screening mamografi satu kali setiap tahun.

"Lalu, untuk wanita usia 50 tahun keatas, lakukan SADARI satu kali setiap bulan, SADANIS setiap tahun, dan screening mamografi satu kali setiap 2 tahun (kecuali terdapat rekomendasi lain dari dokter),"pungkasnya.

1
2