Share

Kanker Payudara Jadi Silent Killer, Masyarakat Diminta Lakukan Deteksi Dini

Antara, Jurnalis · Kamis 21 April 2022 15:00 WIB
$detail['images_title']
Masyakarat harus deteksi dini kanker payudara (Foto: Caicl)

KASUS baru dan kematian akibat kanker di Indonesia naik hampir 10%. Bahkan, lembaga kesehatan dunia (WHO) melansir data tahun 2020 sebesar 400.000 kasus baru dan 230.000 menyebabkan kematian akibat kanker.

Kanker payudara dan kanker serviks menjadi silent killer paling berbahaya bagi wanita. Tingginya risiko kanker terkait erat dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran untuk pencegahan dan deteksi dini kanker.

 kanker payudara

Ahli Bedah Onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr Bob Andinata SpB(K) Onk mengatakan, faktor-faktor risiko dari kanker payudara terbagi dua, yakni faktor risiko yang bisa dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

“Untuk faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi yaitu perempuan, usia di atas 50 tahun, ada riwayat kanker dalam keluarga, menstruasi pada usia kurang dari 12 tahun, dan menopause pada usia di atas 50 tahun,” kata dia.

Faktor risiko yang bisa dimodifikasi meliputi perempuan yang tidak menikah, menikah tapi tidak hamil, tidak memiliki anak, penggunaan kontrasepsi hormonal di atas 10 tahun, hingga obesitas.

Selain itu, penggunaan kontrasepsi hormonal di atas 10 tahun meningkatkan kadar hormon ekstrogen yang memicu kanker payudara. Begitu juga obesitas, juga meningkatkan estrogen.

Oleh karena itu, Bob mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan skrining dan deteksi dini kanker payudara.

Sementara itu, Direktur Helix Laboratorium Muhareva Raekiansyah, Ph.D menambahkan, pihaknya siap melakukan pemeriksaan genetik untuk mengetahui risiko kanker seperti kanker payudara, kanker ovarium dan beberapa jenis kanker lainnya. Sebab penting bagi orangtua untuk mengetahui kondisi kesehatan buah hatinya sejak dini.

Apalagi seorang anak bisa terkena risiko kanker jika terdapat riwayat kanker dalam keluarganya. Makanya pemeriksaaan genetik untuk mengetahui risiko kanker pada anak sejak dini, jadi sangat penting.

Selain itu pemakaian teknologi mutakhir dari Korsel mampu mendeteksi risiko penyakit dan kelainan genetik melalui metode next generation sequencing (NGS) yang memungkinkan untuk melakukan skrining pada genom manusia. NGS memiliki keunggulan untuk melakukan sekuensing gen dengan sensitivitas dan keakuratan tinggi sehingga dapat dikembangkan untuk melakukan pemeriksaan terkait genom.

 BACA JUGA:Waspada, Stres Bisa Jadi Pemicu Kanker Payudara!

“Kami siap mengatasi keresahan para orangtua dalam menjaga dan merawat kondisi kesehatan buah hati sejak dalam kandungan. Ketika terdeteksi kelainan pada janin, kita bisa mengambil keputusan tindakan medis yang cepat dan tepat tentunya.” tutur Dokter Mariyam Jamilah menambahkan.

Follow Berita Okezone di Google News

(DRM)