Share

Maia Estianty Ragu Potong Kantong Empedu karena Doyan Lemak, Ini Kata Dokter

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 05 April 2022 15:32 WIB
$detail['images_title']
Maia Estianty ragu potong kantong empedu (Foto: Inst)

MAIA Estianty mengaku sangat suka makan lemak, seperti keju dan daging sapi. Kesukaannya ini membuat dirinya gundah untuk memotong empedu yang ternyata sudah ada batunya.

"Yang bikin saya ragu untuk potong empedu, saya ini pemakan lemak, seperti keju dan daging, termasuk suka banget kopi. Apakah dengan memotong empedu saya tetap bisa makan makanan itu?" tanya Maia Estianty ke Dokter Spesialis Bedah EMC Hospital Alam Sutera dr Tjang Supardjo, di channel Youtube Maia Aleldul TV, Selasa (5/4/2022).

 Maia

Dokter Tjang coba menjelaskan dengan sangat sederhana ke Maia pun penonton Youtube-nya. Menurutnya, dengan masih adanya empedu yang bermasalah, karena sudah ada batu besar di dalamnya, itu malah akan tetap membuat rasa sakit di perut Maia bertahan.

"Dengan adanya batu empedu di dalam kandung empedu, tiap kali Bunda makan makanan yang berlemak itu bikin perut Bunda enggak enak. Sebab, kandung empedunya terangsang," papar dr Tjang.

"Jadi, ketika makanan lemak masuk, merangsang kandung empedu kontraksi, bikin rasa tidak nyaman atau sampai sakit perut," tambahnya.

Beda cerita kalau kandung empedunya dipotong atau dibuang. Menurut dr Tjang, justru lega. "Makan makanan berlemak akan bikin perut biasa saja (tidak ada lagi gejala sakit yang teramat perih), ya, kecuali lemaknya banyak atau berlebihan," ungkapnya.

Di video itu pun Dokter Tjang menjelaskan bahwa ketika seseorang kandung empedunya dipotong, cairan empedunya tetap normal, karena cairan empedu diproduksi oleh hati, bukan kandung empedu tersebut.

 BACA JUGA: Wanita Perlu Waspadai Penyakit Batu Empedu, Ini Alasannya

"Hati memproduksi cairan empedu untuk mengalir ke usus 12 jari untuk membantu pencernaan lemak. Nah, cadangannya disimpan di kandung empedu. Kalau 'kantongnya' dibuang, cairan akan masuk ke usus buat pencernaan dan baik-baik saja," terang dr Tjang.

(DRM)