Share

Menkes Akhirnya Tanggapi Kisruh IDI Pecat dr Terawan, Begini Katanya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 28 Maret 2022 17:10 WIB
$detail['images_title']
dr Terawan Dipecat dari IDI (Foto: Satgas Covid-19)

MENTERI Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin akhirnya angkat suara terkait dipecatnya dr Terawan Agus Putranto dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Menurut Menkes Budi, waktu dan tenaga para dokter serta tenaga kesehatan lainnya di bawah naungan IDI atau organisasi kedokteran profesi harus dimaksimalkan untuk membangun masyarakat yang sehat di tengah pandemi ini.

"Kami mengamati dinamika seputar perdebatan atau pertentangan antara IDI dengan Dokter Terawan. Kami memahami bahwa masing-masing organisasi profesi memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga masing-masing, serta memiliki anggota masing-masing yang mereka perlu diatur," kata Menkes Budi mengawali pernyataannya di konferensi pers virtual, Senin (28/3/2022).

dr terawan

"Dan saya juga memahami bahwa UU Praktik Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004 telah memberikan amanah yang besar pada IDI sebagai salah satu organisasi profesi untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap anggotanya," lanjut Menkes.

Oleh karena itu, katanya, pihaknya sangat memerlukan daya dan pikiran dokter dan nakes semua untuk bersama sama mencari solusi agar pandemi selesai.

"Saya sangat mengharapkan agar diskusi atau komunikasi, hubungan antara IDI dengan semua anggotanya bisa terjalin dengan baik," ujarnya. "Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu kita semua kerjakan bersama-sama pasca pandemi ini," tambah Menkes.

BACA JUGA : Mengenal Apa Itu MKEK yang Pecat dr Terawan dari IDI

Ya, di masa pascapandemi nantinya, masalah kesehatan akan terus ada dan karena itu dia amat berharap agar dokter-dokter di Indonesia lebih mengarahkan waktu dan energi nya untuk masyarakat Indonesia yang lebih sehat.

BACA JUGA : IDI Berhentikan dr Terawan dari Keanggotaan, Ada 3 Poin Penting di Sidang MKEK

Masalah kesehatan itu meliputi angka stunting yang masih tinggi, kematian ibu dan bayi yang masih ada, menurunkan angka kasus diabetes dan hipertensi yang berdampak negatif bagi masyarakat usia lanjut, serta penyakit menular seperti TBC, malaria, dan HIV yang masih harus diselesaikan.

"Kami percaya, masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan tenaga dan waktu dokter-dokter semua untuk membereskan masalah tersebut dengan harapan agar masyarakat Indonesia sehat," katanya.

(hel)