Share

Apakah Model Plus Size Menormalkan Obesitas?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 23 Maret 2022 11:31 WIB
$detail['images_title']
Model Plus Size di Runway (Foto: CNN)

KEHADIRAN model plus size di dunia modeling dan fashion secara umum memberi napas baru bagi industri yang mengagungkan manusia bertubuh kurus tersebut. Tapi, di balik itu para peneliti melihat adanya upaya normalisasi obesitas yang mengancam nyawa.

Munculnya model plus size di runway desainer kondang dunia ataupun cover majalah fashion internasional adalah bentuk dobrakan fenomenal yang lahir di era kekinian. Eksistensi model plus size di industri fashion dianggap sebagai promosi body positivity yang perlu digaungkan.

Namun, studi yang dilakukan oleh dr Raya Muttarak dari University of East Anglia (UEA) dan Institut Internasional untuk Analisis Sistem Terapan (IIASA) di Austria meneliti karakteristik demografis dan sosial ekonomi yang terkait dengan upaya meremehkan status berat badan untuk mengungkapkan ketidaksetaraan sosial dalam pola salah persepsi berat badan.

Model Plus Size

Studi melibatkan 23.460 koresponden di Inggris yang kelebihan berat badan atau obesitas mengungkapkan bahwa telah terjadi salah kaprah pada kelompok tersebut mengenai persepsi berat badan.

"Secara keseluruhan, sebanyak 85% dari koresponden meremehkan berat badan dengan tidak mau menurunkan berat badan, dibandingkan sisanya yang secara akurat mengidentifikasi status berat badan mereka," terang studi tersebut dilaporkan laman Science Daily, dikutip MNC Portal, Rabu (23/3/2022).

BACA JUGA : Ciri-Ciri Obesitas yang Berisiko Tinggi Picu Kematian, Catat Cara Cegahnya di Sini!

BACA JUGA : Jumlah Orang Obesitas di Indonesia Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Artinya, studi yang telah diterbitkan di jurnal Obesity tersebut memperlihatkan keadaan nyata bahwa orang dengan obesitas salah mengartikan berat badan mereka. Ini memengaruhi upaya mereka untuk mau menurunkan berat badan.

"Terjadi peningkatan persentase pada kasus ini, pada laki-laki angkanya naik dari 48,4% menjadi 57,9%, sedangkan pada perempuan 24,5% menjadi 30,6% dari tahun 1997 hingga 2015," tulis studi.

Model Plus Size

Dokter Muttarak pun mengaitkan masalah ini dengan munculnya gerakan model plus size di industri fashion dunia.

"Melihat potensi besar pasar fashion plus size, retailer mungkin berkontribusi dalam upaya menormalisasi obesitas," tegas dr Muttarak. "Di sisi lain, kemunculan model plus size juga bentuk nyata body positivity yang sekarang terus digencarkan di masyarakat," tambahnya.

"Namun, dengan munculnya model plus size, ini dapat merusak pengakuan kelebihan berat badan dan konsekuensi kesehatannya. Salah kaprah ini cukup mengkhawatirkan dan mungkin akibat dari normalisasi tersebut," sambung dr Muttarak.

Sementara itu, Model Plus Size sekaligus Founder dan CEO of Natural Model Management Katie Willcox menegaskan bahwa model plus size tidak berkontribusi pada peningkatan kasus obesitas di masyarakat. Model plus size tidak menormalisasi obesitas.

Dalam pernyataan resminya di laman Healthy is The New Skinny, Katie mengatakan bahwa seorang model yang mengenakan pakaian tidak mempromosikan apapun selain barang yang dikenakannya.

"Jika Anda merasa ada pesan tersembunyi soal normalisasi obesitas di dalamnya, itu tidak benar. Model tidak ada kaitannya dengan itu," terang Katie.

"Itu semata-mata hanya mempromosikan pakaian yang dibuat rumah mode yang mempekerjakan model plus size untuk menciptakan citra dan pesan simbolis di baliknya," tambahnya.

Model Plus Size

Ia pun menyerang pihak-pihak yang mengatakan bahwa dengan menunjukkan model plus size di majalah atau promosi fashion lainnya adalah bentuk promosi obesitas, itu cerminan langsung dari pandangan menyimpang soal kesehatan dan tubuh wanita.

"Pengalaman pribadi saya, ketika saya memiliki tubuh kurus, saya tidak bahagia, padahal banyak orang mengagumi tubuh kecil saya," katanya.

Katie dan para model yang tergabung di agensinya pun menyadari adanya anggapan tersebut. Ia mengaku bahwa banyak model-model asuhannya yang kini sedang berjuang untuk hidup lebih sehat, jadi bukan kemudian membiarkan tubuhnya besar.

"Alih-alih menghakimi kami yang bertubuh plus size, kenapa masyarakat tidak memberi kami kesempatan untuk menikmati mode seperti yang selalu dimiliki wanita bertubuh kecil. Kami punya hak bahagia yang sama," ungkapnya.

1
2