Share

Pekerja Kantoran Butuh Lebih Banyak Asupan Vitamin D, Ini Alasannya

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 21 Maret 2022 17:32 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Vitamin D. (Foto: Shutterstock)

SETIAP orang harus memastikan angka kebutuhan vitamin D mereka tercukupi. Bukan hanya untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, tapi vitamin D diketahui punya peranan besar terhadap imunitas tubuh.

Dengan kekebalan tubuh yang baik, sistem imunitas bisa melawan serangan infeksi penyakit termasuk infeksi penyakit saluran pernapasan seperti Covid-19. Kebutuhan vitamin D pada tiap orang nyatanya berbeda-beda, walau misalnya sama-sama orang dewasa normal. Bentuk aktivitas yang dijalankan setiap harinya, bisa jadi salah satu faktor pembeda.

Seperti contohnya kebutuhan vitamin D antara orang dewasa yang bekerja di dalam ruangan kantor tertutup dan ber-AC dengan pekerja outdoor yang terbiasa terpapar sinar matahari, sumber alami vitamin D.

VItamin D

“Ya bisa berbeda, karena sumber vitamin D paling banyak didapatkan dari efek paparan sinar matahari,” ujar dr. Yohan Samudra, Sp.GK, saat dihubungi MNC Portal Indonesia belum lama ini.

Paparan sinar matahari UVB yang menyentuh kulit secara langsung (direct exposure) inilah yang akan membuat pre-vitamin D menjadi aktif dan bisa digunakan oleh tubuh. “Semakin sedikit terkena paparan sinar matahari, akan semakin sedikit pula vitamin D aktif yang terbentuk,” lanjut dr. Yohan.

Pada orang dewasa normal sendiri, jika merujuk pada Angka Kecukupan Gizi dari Kementerian Kesehatan RI, orang dewasa membutuhkan asupan 600 IU (15 mcg) vitamin D setiap harinya.

Namun, angka kebutuhan hanya 600 IU ini tak berlaku bagi orang-orang yang jarang terkena paparan sinar matahari langsung seperti pekerja kantoran. Sebab, bersama golongan kelompok orang tertentu, asupan kebutuhan vitamin D tinggi yang dibutuhkan golongan tertentu ini bisa saja mencapai 1000 IU per hari.

“Lansia, orang dengan obesitas, orang yang jarang terkena paparan sinar matahari, ibu hamil, ibu menyusui, orang berkulit lebih gelap dan juga individu dengan variasi genetik tertentu yang menyebabkan pengaktifan vitamin D nya tidak optimal,” tutup dr. Yohan singkat.

Asupan vitamin D sendiri bisa didapat secara alami dengan paparan sinar matahari atau dibantu konsumsi suplemen vitamin D. Jika dilihat dalam label vitamin D, biasanya disarankan untuk memeriksakan kadar vitamin D di dalam darah.

Menruut dokter Yohan Samudra, hal ini berfungsi agar setiap orang bisa mengetahui takaran kebutuhan vitamin D yang sesuai. Dengan mengetahui kadar vitamin D di dalam darah, dosis suplementasi vitamin D bisa diberikan lebih tepat sesuai kebutuhan.

1
2