Share

Hari Tidur Sedunia, Dokter Ungkap Sleep Apnea Jadi Epidemi Global

Kevi Laras, Jurnalis · Jum'at 18 Maret 2022 12:55 WIB
$detail['images_title']
Hari Tidur Sedunia (Foto: Health and fitness travel)

MEMPERINGATI hari tidur sedunia (word sleep day) pada hari ini (17/3), Obstructive sleep apnea (OSA) menjadi sakit epidemi global. Hal tersebut disampaikan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam konferensi pers.

Ketua Pokja Sleep Related Breathing Disorder PP-PDPI menyampaikan kalau permasalahan gangguan tidur akibat OSA, belum terlalu besar di Indonesia. Namun, telah menjadi masalah epidemi secara global dengan persentase sekitar 30-40 persen.

 Hari Tidur Sedunia

Sedangkan di Indonesia berdasarkan sejumlah penelitian yang dilakukan oleh perhimpunan dokter paru Indonesia ditemukan kurang lebih 7 persen mengalami gangguan tidur.

"Ini menjadi masalah epidemi yang global, karena memang lebih dari 30-40 persen memiliki gangguan tidur. Dari beberapa penelitian dilakukan oleh perhimpunan paru Indonesia kurang lebih dari 7 persen mengalami gangguan tidur," tutur dr. Andika Chandra Putra, Ph.D, Sp.P(K).

Namun, banyak tidak memahami penyebab gangguan tidur karena Obstructive sleep apnea (OSA). OSA merupakan kejadian berhentinya nafas lebih dari 10 detik terjadi berulang sepanjang tidur, ternyata OSA lebih rentan dialami oleh pria.

"Secara umum walaupun tidak berubah signifikan dari beberapa literatur dan penelitian memperlihatkan bahwa laki-laki itu lebih rentan mengalami osa salah satu faktor yaitu obesitas," tambahnya.

 BACA JUGA:Mengenal Bahaya Sleep Apnea, ketika Orang Tak Bernapas 10 Detik saat Tidur

Lebih lanjut, dia mengatakan obesitas pada pria umumnya bukan hanya diperut tapi juga dileher sehingga ada penyimpitan pada saluran pernafasan bagian atas. Gangguan tidur yang muncul akibat OSA, berupa rasa kantuk yang luar biasa, letih, lesu, produktivitas menurun, konsentrasi terganggu, nyeri kepala, gelisah, tekanan darah tinggi hingga disfungsi seksual.

(DRM)