Share

Jika Indonesia Memasuki Endemi, Bagaimana Nasib Vaksin Merah Putih?

Siska Permata Sari, Jurnalis · Rabu 16 Maret 2022 15:10 WIB
$detail['images_title']
Vaksin Merah Putih masih dalam fase satu (Foto: Sukardi)

VAKSIN Merah Putih sampai saat ini masih memasuki tahap uji klinis fase pertama. Vaksin besutan Universitas Airlangga, PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo ini ditargetkan akan masuk uji klinis tahap 2 pada akhir bulan ini.

Di tengah proses uji klinis vaksin Merah Putih, situasi pandemi Covid-19 di Indonesia berangsur membaik. Hal ini ditandai dengan data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan turunnya kasus konfirmasi positif Covid-19 harian.

 pandemi Covid-19

Bahkan, saat ini Indonesia sudah dalam proses transisi perubahan pandemi menjadi endemi. Lantas, jika pandemi Covid-19 menjadi endemi, bagaimanakah nasib vaksin Merah Putih yang masih dalam tahap uji klinis?

Ketua Tim Peneliti Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Fedik Abdul Rantam mengatakan, persediaan vaksin masih tetap akan dibutuhkan selama penyakit tersebut masih ada. Meskipun, jika kelak status pandemi berubah menjadi endemi.

“Inti dari vaksin adalah memberikan zat kebal di dalam tubuh, dalam rangka menjaga tubuh dari infeksi, ini yang perlu dipahami. Oleh karena itu, dalam keadaan endemi pun sama. Selama penyakit masih ada, maka vaksin tetap dibutuhkan,” kata Fedik Abdul Rantam dalam webinar pada Rabu (16/3/2022).

Terlebih, sambung dia, virus penyebab Covid-19 ini tidak stabil dan dalam perkembangannya memunculkan varian-varian baru.

“Jika dalam suatu tatanan kesehatan dalam populasi 70 persennya tidak mendapatkan imunisasi, tentu penyakit ini selalu masih muncul. Orang-orang yang tidak tervaksinasi itulah yang bisa menjadi sumber dari penyakit tersebut sehingga bisa menular kepada orang yang tervaksinasi tetapi titer antibodinya sudah rendah,” jelas dia.

Oleh karena itu, menurut dia, persediaan vaksin masih tetap dibutuhkan selama penyakitnya masih ada.

“Saya masih tetap memegang teguh bahwa vaksinasi perlu dilakukan sampai kalau bisa penyakit ini hilang dari dunia ini. Tentu akan sulit karena variannya juga banyak, oleh karena itu, penyediaan vaksin tetap masih diperlukan,” ujarnya.

(DRM)