Share

Peneliti Sebut Paparan Ozon Berdampak Pada Meningkatnya Depresi Remaja

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 16 Maret 2022 09:40 WIB
$detail['images_title']
Peneliti sebut paparan ozon berdampak pada meningkatnya depresi remaja (Foto: Venture Academy)

JAKARTA - Paparan ozon akibat polusi udara dinilai berkaitan dengan peningkatan gejala depresi bagi kelompok remaja, bahkan yang hidup di lingkungan dengan kualitas udara sesuai standar.

Dilansir dari EurekAlert, Rabu (16/3/2022), penilaian ini muncul dari hasil penelitian terbaru yang telah diterbitkan oleh American Psychological Association.

Penelitian itu menyebutkan, paparan ozon ini adalah buah dari gas yang dihasilkan ketika berbagai polutan dari knalpot kendaraan bermotor, pembangkit listrik, pabrik, dan sumber lainnya bereaksi terhadap sinar Matahari.

Akibatnya, papan ozon dengan tingkatan yang tinggi telah terbukti sebelumnya berkaitan dengan berbagai penyakit fisik, termasuk asma, penyakit pernapasan lain karena virus, hingga kematian dini karena masalah pernapasan.

Studi ini, merupakan yang pertama di mana menghubungkan tingkat ozon dengan perkembangan gejala depresi pada remaja dari waktu ke waktu.

Gejala yang dialami, misalnya perasaan sedih atau putus asa yang terus-menerus, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur bahkan pikiran tentang bunuh diri.

"Saya pikir temuan kami benar-benar berbicara tentang pentingnya mempertimbangkan dampak polusi udara pada kesehatan mental selain kesehatan fisik," kata ketua peneliti Erika Manczak, PhD, asisten profesor psikologi di University of Denver.

Kemudian, para peneliti menganalisis data dari penelitian sebelumnya, tentang stres di masa muda dengan 213 peserta remaja berusia 9 hingga 13 tahun di wilayah Teluk San Francisco, California, Amerika Serikat.

Mereka membandingkan data tentang kesehatan mental remaja selama periode empat tahun, lewat sensus ke rumah masing-masing, dan data kualitas udara diperoleh dari Badan Perlindungan Lingkungan California.

Setelah diteliti, remaja yang tinggal di daerah dengan paparan ozon yang relatif lebih tinggi menunjukkan peningkatan gejala depresi secra signifikan dari waktu ke waktu. Meskipun paparan ozon di lingkungan mereka tidak melebihi standar kualitas udara negara bagian atau nasional.

Temuan ini, tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, ras, pendapatan rumah tangga, pendidikan orang tua, atau karakteristik sosial ekonomi lingkungan mereka.

"Mengejutkan bahwa paparan ozon dengan tingkat rendah pun memiliki efek yang berpotensi berbahaya," kata Manczak.

Lebih lanjut, sambungnya, ozon dan komponen lain dari polusi udara dapat berkontribusi pada peradangan tingkat tinggi dalam tubuh. Di mana ini telah dikaitkan dengan timbulnya dan perkembangan depresi. Remaja mungkin sangat sensitif terhadap efek ini karena mereka menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.

Penelitian ini mencakup ukuran sampel yang relatif kecil dari satu wilayah di Amerika Serikat. Temuan tersebut juga korelasional, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa kadar paparan ozon menyebabkan peningkatan gejala depresi secara langusng.

Hanya saja, ada keterkaitan di antara keduanya. Namun, dimungkinkan juga adanya komponen lain dari polusi udara yang memicunya, selain paparan ozon bisa menjadi salah satu faktor.

Oleh karenanya, Manczak menambahkan, karena polusi udara secara tidak proporsional dapat mempengaruhi komunitas yang terpinggirkan, tingkat paparan ozon dapat berkontribusi pada kesenjangan kesehatan.

Menurutnya, masyarakat juga harus mempertimbangkan cara untuk mengurangi paparan ozon secara langsung, seperti rutin olahraga di dalam ruangan, khususnya bagi para remaja.

1
2