Share

Sapi Sakit Lumpy Skin, Bisakah Menular ke Manusia?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 11 Maret 2022 05:00 WIB
$detail['images_title']
Sapi sakit Lumpy Skin (Foto: Khmertimeskh)

PENYAKIT lumpy skin pada sapi dan kerbau ditemukan kasus pertamanya di Indonesia. Kantor berita ABC News menjelaskan, kasus ada di 31 desa di Pulau Sumatera.

Namun, Kementerian Kesehatan belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai hal ini. Di sisi lain, Kementerian Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) memastikan akan mengerahkan dokter hewan hingga paramedik untuk menangani kasus tersebut.

Sapi Lumpy Skin

Banyak masyarakat khawatir dengan temuan kasus lumpy skin ini. Terlebih sebentar lagi akan memasuki momen Ramadhan yang mana banyak orang mengonsumsi daging sapi.

Lebih lanjut, ketakutan orang-orang atas penemuan kasus ini adalah penyakit bisa menyebar ke manusia. Tapi, apakah lumpy skin menyebar ke manusia?

Dijelaskan Dokter Hewan drh Aisyah Purnomosari, lumpy skin disease (LSD) itu tidak menular dari hewan ternak ke manusia. Artinya, penyakit ini bukan tergolong 'zoonosis'.

"LSD bukan penyakit zoonosis, artinya penyakit ini tidak menular ke manusia," terangnya pada MNC Portal, baru-baru ini. 

BACA JUGA : Apa Itu Penyakit Lumpy Skin yang Serang Sapi dan Kerbau di Indonesia?

Menurut data World Organisation for Animal Health (OIE) yang dibagikan drh Ais, penularan penyakit ini terjadi karena beberapa cara. Pada kebanyakan kasus, sapi atau kerbau terinfeksi LSD akibat tertular virus dari gigitan nyamuk, lalat, atau caplak yang berperan sebagai vektor penyakit LSD.

BACA JUGA : Gawat! Sapi dan Kerbau di Indonesia Terserang Penyakit Lumpy Skin Jelang Ramadhan

LSD juga terjadi apabila dalam satu tempat ada hewan yang terpapar Lumpy Skin Disease Virus (LSDV), virus penyebab LSD. Karena itu, jika ada satu hewan ternak yang terpapar, harus segera dipisahkan untuk meminimalisir penyebaran virus ke hewan lain.

"Kami juga menyarankan bagi pemilik hewan ternak, jika ada hewan ternaknya yang menunjukkan gejala LSD, maka ternak itu tidak boleh dijual, dipindahkan, atau pun dipotong," saran drh Ais.

"Segera dilaporkan ke petugas pelayanan kesehatan hewan untuk dilakukan pengamatan lebih lanjut dan pengobatan," tambahnya.

Gejala LSD pada hewan sendiri antara lain munculnya lesi kulit berupa nodul berukuran 1-7 cm yang biasanya ditemukan pada daerah leher, kepala, kaki, ekor, dan ambing. Pada kasus berat, nodul atau benjolan yang muncul ditemukan hampir di seluruh bagian tubuh hewan ternak.

Munculnya benjolan ini biasanya diawali dengan demam hingga lebih dari 40,5 derajat celcius. Nodul pada kulit tersebut jika dibiarkan akan menjadi lesi nekrotik dan ulseratif.

Tanda klinis lainnya yaitu badan ternak lemah, adanya leleran hidung dan mata, pembengkakan limfonodus subscapula dan prefemoralis, serta dapat terjadi oedema pada kaki.

1
2