Share

Terapi Kanker Optimal Beri Harapan Hidup 5 Tahun Lebih Panjang

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 07 Maret 2022 13:29 WIB
$detail['images_title']
Kanker kemoterapi. (Foto: Reuters)

MASA pandemi membuat banyak pasien dengan penyakit komorbid menghadapi tantangan berat. Salah satunya pasien kanker yang seharusnya kemoterapi dan bertemu dokter jadi merasa terbatas.

Karena pandemi membuat masyarakat jaga jarak dan tidak keluar rumah. Tentu untuk mengurangi penularan, termasuk para pasien kanker yang seharusnya sedang melewati masa penyembuhan.

Salah satunya di saat kemoterapi, tak sedikit pasien yang takut. Padahal kemoterapi tak boleh terlewat agar sel kanker dalam tubuh tidak menggganas.

Ketua Indonesian Health Economics Association (InaHEA) / Ikatan Ekonom Kesehatan Indonesia (IEKI) Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH mengatakan, pasien kanker harus tetap rutin kemoterapi, karena membantu mempercepat pemulihan penyakit kanker. Ditambah pasien sangat rentan terpapar Covid-19, jadi harus lebih hati-hati.

"Karena kondisi badan melawan sel-sel kanker agar tak menjalar dan sangat rawan kalau kena Covid-19,  maka penggunaan obat, kontrol, pengobatan kemo sangat membantu kondisi badan," ujarnya dalam keterangannya.

 hasbullah

Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli menuturkan, menghadapi kanker dan Covid-19 ini jadi khawatir. Hal ini pun dialami sebagai penyintas kanker payudara.

Namun begitu, menurut Aryanthi, pasien kanker yang berjuang sembuh dengan kemoterapi harus tepat waktu. Hal ini agar tak memperburuk kondisi tubuhnya yang telah digerogoti sel kanker

"Dalam menjalani kemoterapi atau saat diagnosis ini harus tepat waktu dan sekarang bisa telemedicine," ucapnya.

Sementara ini, perkembangan teknologi pengobatan kanker terus memberikan peningkatan harapan dan kualitas hidup bagi penyintas kanker. Namun di sisi lain Pemerintah mengalami keterbatasan pembiayaan untuk menambahkan berbagai pengobatan inovatif ke dalam cakupan JKN.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh The Swedish Institute for Health Economics (IHE) di 2021, ditemukan bahwa negara dengan alokasi pembiayaan kanker yang lebih tinggi menunjukkan  keberhasilan penanganan kanker yang lebih baik dibandingkan negara yang memiliki alokasi pembiayaan kanker lebih rendah.

Oleh karena itu, pengimplementasian pembiayaan kesehatan yang inovatif dapat menjadi salah satu solusi pendanaan kesehatan. Hal ini tentu memerlukan kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga dapat membantu pemerintah untuk memperluas cakupan pengobatan untuk seluruh masyarakat.

Selain itu dalam beberapa tahun terakhir, BPJS Kesehatan sebagai pengelola program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengalami defisit sejak beberapa tahun terakhir yang mendorong Pemerintah untuk mengurangi dan membatasi beberapa manfaat dalam cakupan JKN.

“Pemerintah seharusnya tidak hanya fokus mengurangi beban biaya dengan membatasi manfaat layanan pengobatan dalam program JKN, tapi perlu segera mencari ide-ide inovatif untuk meningkatkan alokasi pembiayaan sehingga pasien-pasien."

"Terutama penyintas kanker, tetap dapat memperoleh layanan terapi kanker yang paling optimal dan memberikan harapan lima tahun lebih panjang serta kualitas hidup yang lebih baik,” jelas Prof Hasbullah.

1
2