Share

Jangan Diremehkan, Berikut Efek Gangguan Pendengaran Pada Anak

Kevi Laras, Jurnalis · Jum'at 04 Maret 2022 12:26 WIB
$detail['images_title']
Gangguan pendengaran anak (Foto: First cry parenting)

GANGGUAN pendengaran pada anak kerap kali tidak disadari oleh orangtua, khususnya di tengah penerapan pembelajaran secara online (daring). Oleh karena itu, peran orangtua dalam mendidik dan mengawasi anaknya sangat diperlukan.

Gangguan pendengaran pada anak bisa terjadi karena penggunaan earphone atau headphone, saat anak belajar atau bermain game. Dengan tingkat volume lewat dari batas maksimal pendengaran, dapat memicu kerusakan permanen.

 anak pakai headset dengan volume keras

Lantas efek apa saja yang timbul ketika anak mengalami gangguan pendengaran atau kerusakan pendengaran secara permanen (tuna rungu)?

Menurut Ketua Umum Peraudi, Christin Agustina Sitanggang, banyak efek ditimbulkan ketika anak mengalami gangguan pendengaran. Anak akan mengalami gangguan dalam berbicara dan sulit berkomunikasi.

Maka sering kita menemukan anak gangguan pendengaran mudah marah atau depresi karena mereka tidak dapat menyampaikan secara baik apa yang mereka inginkan.

"Efek gangguan pendengaran bagi anak terhambatnya perkembangan bahasa wicara dan literasi. kesulitan berkomunikasi mungkin menyebabkan anak merasa marah, depresi, terisolasi," ujar Christin dalam Webinar Gangguan Pendengaran di Era Daring, Jumat (4/3/2022)

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tingkat kepercayaan diri anak bisa menurun. Bahkan anak sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, akademisnya pun juga kurang optimal karena anak sulit berkonsentrasi.

Terjadinya cedera juga sangat berpeluang besar bagi anak yang mengalami gangguan pendengaran. Sebab mereka tak dapat mendengar sinyal, sehingga tingkat kewaspadaannya melemah.

"Juga risiko cedera lebih tingggi karena tingkat kewaspadaan yang lebih rendah. Terutama mereka yang tidak menggunakan alat pembantu pendengaran," katanya

Sehubungan dengan itu, gangguan pendengaran juga dapat menyerang bayi atau balita (2-5 tahun). Dalam jumlah kasusnya di Indonesia, usia balita terdapat 0,11 persen atau 1,1 kasus per 1.000 anak mengalami tuna rungu.

Menurut dokter perlu yang namanya pengawasan orang tua bagi anak-anak agar terhindar dari gangguan pendengaran yang bisa mengakibatkan tuli permanen.

 BACA JUGA:Cegah Gangguan Pendengaran, Menkes: Pastikan Volume Earphone Cukup di 60%

"Sedangkan di Indonesia menurut riskesdas tahun 2018 proporsi tuna rungu sejak lahir pada anak usia balita ada 1,1 kasus pada per 1000 anak," ujar dr. Amanda Soebandi, SpnA(K), MMED(ClinNeurophysiol), Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

(DRM)