Share

Tak Cuma Obat-obatan, Pasien Kanker Juga Butuh Dukungan Moral

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Senin 14 Februari 2022 09:01 WIB
$detail['images_title']
Sederet dukungan untuk pasien kanker. (Foto: Freepik)

PENYINTAS kanker butuh dukungan agar tetap pulih usai sembuh melawan penyakit. Ada banyak cara dan dukungan yang perlu diperhatikan keluarga dan orang terdekat. 

Masih dalam rangka Bulan Kanker, memperingati Hari Kanker Sedunia, berbagai penjelasan mendalam terkait kanker terus didengungkan, baik untuk para pejuang kanker hingga masyarakat luas. Ya, penderita kanker membutuhkan dukungan psikososial agar bisa bekerja dan hidup layaknya orang sehat biasa.

Dengan adanya dukungan moril dari sesama penderita kanker maupun keluarga, bisa menguatkan sekaligus mempercepat proses penyembuhan. Demikian yang dijelaskan oleh dra Yohana Domikus, M.Si., Psikolog.

Masalah psikososial ini diantaranya rasa cemas, takut, malu, rendah diri, khawatir masalah finansial, dan masih banyak lainnya. Di Amerika Serikat, ada sekitar 60% pasien dan penyintas kanker telah mengalami dampak kejiwaan akibat pandemi Covid-19.

Beberapa penyebabnya adalah merasa terisolasi dan kesepian, keterbatasan pelayanan, kecemasan akan kemungkinan relaps, keterbatasan finansial, serta ketidakjelasan informasi. Melihat kondisi itu, dra Yohana pun mengajak masyarakat untuk melakukan dukungan psikososial untuk para penyintas kanker.

"Dukungan psikososial itu sesuatu banget, mungkin kemarin sudah dilakukan tapi kurang aware. Nah, sekarang kita menyadari bahwa di tengah pandemi ini, mari kita bersama-sama memberikan dukungan kepada saudara dan teman yang menjadi penyintas atau pasien," ujar dra Yohana Domikus, M.Si., Psikolog dalam webinar Kalbe Farma Dukung Ekosistem & Psikososial bagi Stakeholder Kanker di Era Pandemi Covid-19, Sabtu (12/2/2022).

Ada banyak berbagai dukungan psikososial yang bisa dilakukan untuk para penyintas berikut ini:

1. Dukungan informasi: Menyediakan berbagai informasi yang diperlukan pasien atau penyintas.

2. Dukungan harga diri: Memberikan validasi, kata-kata positif, tidak menghakimi.

3. Dukungan jejaring: Membantu mencari akses kepada pihak-pihak yang diperlukan, menyediakan diri sebagai teman.

4. Dukungan emosi: Menunjukkan empati, memberikan sentuhan fisik atau pelukan hangat (bila mungkin), serta mendoakan pemulihannya.

5. Dukungan nyata atau tangible: Hadir, menemani, membantu menyelesaikan utusan sehari-hari, mendukung finansial, dan lainnya.

Lebih lanjut, dra Yohana menyatakan bahwa pemberian semangat hidup dengan untaian kata-kata atau kalimat pun sudah bisa meringankan beban yang selama ini ditanggung sang penyintas agar tak semakin terperosok ke dalam pemikiran negatif. Selain itu, para pendamping untuk selalu peka dengan perasaan dan kebutuhan penyintas. 

Tak kalah penting, para pendamping juga harus menjadi pendengar yang baik secara tulus tanpa menghakimi penyintas. Kemudian, para pendamping juga harus mengajak dan memfasilitasi para penyintas kanker untuk tetap bersosialisasi dan melakukan aktivitas sesuai kemampuan. Meski terlihat sederhana, tetapi dukungan-dukungan kecil ini sangat berharga bagi para penyintas, lho. Jangan lupa diterapkan, ya!

1
2