Share

BPOM Perlu Memperjelas Keamanan Kategori Galon Isi Ulang yang Beredar

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 10 Februari 2022 13:30 WIB
$detail['images_title']
Air galon berpotensi mengandung BPA. (Foto: Shutterstock)

AIR minum galon berkaitan erat dengan masyarakat sehari-hari. Tapi siapa sangka air minum dalam kemasan tersebut berpotensi mengandung Bisfenol A, kerap disingkat BPA.

Ya, BPA adalah senyawa kimia pembentuk Polikarbornat, jenis plastik pada umumnya galon isi ulang. BPA sangat berbahaya bagi kesehatan dalam jangka panjang karena dapat memicu berbagai penyakit serius seperti

BPOM pun menggolongkan BPA sebagai senyawa kimia berbahaya bila sampai berpindah dari kemasan pangan ke dalam produk pangan dan terkonsumsi melebihi batas maksimal yang dapat ditoleransi tubuh, yakni sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg).

FMCG Insights, sebuah lembaga riset produk konsumen berbasis Jakarta, menyoroti aturan pelabelan potensi bahaya Bisfenol A pada air minum galon oleh BPOM. Ya, pada draft revisi BPOM atas peraturan label pangan olahan tertanggal 28 November 2021 menyebut produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat wajib mencantumkan label peringatan "Berpotensi Mengandung BPA".

Kekecualian berlaku untuk produsen yang mampu membuktikan sebaliknya via pengujian laboratorium terakreditasi atau laboratorium pemerintah. Sementara untuk produsen AMDK yang menggunakan kemasan selain plastik polikarbonat, BPOM membolehkan perusahaan mencantumkan label "Bebas BPA".

Peneliti FMCG Insights Achmad Haris Januariansyah mengatakan, akhirnya draft harmonisasi peraturan itu akhirnya selesai dan ia mengapresiasi.

"Langkah BPOM yang membuka ruang diskusi lintas sektoral selama proses penyusunan hingga kelarnya tahapan harmonisasi rancangan peraturan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia patut dapat acungan jempol," katanya dalam keterangan resmi.

Pekan lalu, BPOM juga merilis hasil uji post-market migrasi BPA pada galon isi ulang dan paparannya pada berbagai kelompok umur "menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan".

Tapi Achmad Haris sendiri menyayangkan pernyataan itu tidak tertera di website resmi BPOM. Ia mendesak BPOM mempublikasikan dokumen kajian ilmiah uji 'postmarket' migrasi dan paparan BPA pada produk air galon sebagai wujud tanggung jawab publik BPOM sekaligus menghormati hak informasi masyarakat," katanya.

Menurutnya, kejelasan soal detail pernyataan pejabat BPOM itu, berikut dokumen kajian ilmiah post-market migrasi BPA, perlu untuk memberi kejelasan pada 30% lebih penduduk Indonesia yang rutin mengkonsumsi air minum isi ulang.

"Masyarakat tentu ingin tahu bagaimana mereka harus menyikapi keamanan produk air galon yang rutin mereka konsumsi," katanya.

Follow Berita Okezone di Google News

Begitupun dengan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi juga mengapresiasi hal yang sama. Dia mengatakan, sudah seharusnya BPOM menjalankan tugasnya untuk memastikan keamanan dan mutu pangan.

"Rancangan peraturan itu perlu dilihat dalam konteks BPOM yang menjalankan tugasnya meningkatkan keamanan dan mutu pangan," ujar Tulus.

Namun lebih jauh, Tulus juga meminta BPOM lebih terbuka dalam menjelaskan hasil survei anyar terkait level migrasi BPA pada produk galon isi ulang yang beredar di masyarakat.

"Penggambaran itu perlu diperjelas dengan skor angka yang tegas agar masyarakat bisa mengetahuinya," kata Tulus.

1
2