Share

Sejarah Donor Mata di Indonesia, Diawali Sumbangan Kornea dari Sri Langka

Tika Vidya Utami, Jurnalis · Rabu 09 Februari 2022 09:15 WIB
$detail['images_title']
Sejarah Donor Mata di Indonesia (Foto Ilustrasi: Timesofindia)

SEJARAH donor mata di Indonesia diawali dengan sumbangan kornea mata dari Bank Mata Internasional Sri Langka. Peristiwa yang melopori donor mata tersebut terjadi di tahun 1967. 

Proses pencangkokan kornea mata di Indonesia tersebut dipelopori oleh Prof. Dr. Isak Salim. Hal ini menjadi peristiwa bersejarah karena menandai dimulainya kegiatan transplantasi kornea di Indonesia.

Donor Mata,

Di tahun yang sama, tepatnya 24 Juli 1967 pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 8/Birhub/ 1967, yang menyatakan bahwa kebutaan di Indonesia merupakan bencana nasional. Hal inilah yang mendorong berdirinya Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) dan Bank Mata Indonesia nasional. Surat keputusan tersebut menjelaskan pula bahwa angka kebutaan di Indonesia meliputi 1% dari jumlah penduduk, sementara itu 10% penyandang tunanetra dapat dipulihkan dengan cangkok kornea mata.

Umumnya, mereka mengalami kekeruhan mata hingga kerusakan kornea. Apabila operasi berhasil, penglihatan mereka dapat pulih kembali sebagaimana penglihatan orang normal. Dilandasi kepedulian terhadap kondisi ini, para relawan kemudian membentuk sebuah badan yang dinamai Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI). PPMTI secara resmi berdiri pada 10 Maret 1968.

BACA JUGA : Lika-liku Upaya Donor Mata di Indonesia

Selain itu, Indonesia juga mempunyai Lions Eye Bank. Lions Eye Bank merupakan organisasi nonprofit yang didirikan di 2018. Aktivitas organisasi ini terkait penyediaan, pengambilan, proses, penyimpanan, serta distribusi kornea terbaik.

BACA JUGA : Calon Donor Mata Baru 14.617 Orang, Jumlahnya Masih Jauh dari Harapan

Di Indonesia, 1 dari 1.000 orang menderita kebutaan karena kerusakan kornea. Namun, kondisi tersebut dapat diatasi dengan pencangkokan kornea apabila melalui penggunaan obat tidak menunjukkan perbaikan. Kesuksesan pecangkokan kornea dapat mencapai 90% dengan menggunakan teknologi yang canggih.

Akan tetapi angka pencangkokan kornea di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini karena minimnya jaringan kornea yang tersedia di Indonesia sehingga masih bergantung kepada negara lain untuk mendapatkan kornea yang dibutuhkan.

(hel)