Share

Darah Tinggi Jadi Penyakit Nomor 1 di Indonesia, Berapa Konsumsi Garam Maksimal Sehari?

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 01 Februari 2022 12:00 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi. (Foto: Medicalnewstoday)

BAHAYA terlalu banyak mengonsumsi garam bisa memicu penyakit tidak menular. Seperti apa penjelasannya?

Data Riskesdas terbaru pada tahun 2018 menunjukkan 21,8 persen masyarakat Indonesia mengalami obesitas. Jika dibiarkan, diprediksi angka obesitas dapat mencapai 40 persen pada 2030, yang artinya hampir 1 dari setiap 2 orang dewasa di Indonesia akan mengalami obesitas.

Kondisi ini harus segera ditangani karena obesitas dikaitkan dengan sejumlah penyakit, seperti lebih berisiko terkena tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Sementara itu, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas 2013 sebesar 25,8 persen.

Disebutkan pakar kesehatan, hipertensi menjadi penyakit nomor satu di Indonesia. Juga penyebab kematian tertinggi yang dialami masyarakat lintas generasi.

Dalam dunia medis, hipertensi atau tekanan darah tinggi disebut sebagai "the silent killer" karena sering tanpa keluhan. Hal ini menjadi penyebab utama penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke di Indonesia.

dr Rafael Nanda R, MKK mengatakan, prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mengisyaratkan bahwa masyarakat harus mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat.

"Salah satu kuncinya adalah menjaga asupan gizi seimbang dengan memerhatikan takaran gula, garam, dan lemak pada setiap masakan,” ujarnya dalam Health Talk & Virtual Tour yang diadakan oleh Ajinomoto Visitor Center.

 Garam

Garam, kata dr Rafael, memang bisa menambah kelezatan makanan. Manfaat garam atau sodium adalah menjaga keseimbangan cairan di tubuh, dan berperan dalam menjaga fungsi saraf serta otot.

Namun makanan dengan kandungan garam yang tinggi cenderung berbahaya.  Sehingga mengarah pada obesitas dan penyakit lainnya seperti hipertensi.

"Konsumsi garam yang tinggi dapat menyebabkan tingginya kadar natrium di dalam darah. Karena itu, WHO menganjurkan batas konsumsi aman garam per hari untuk orang dewasa adalah maksimal 5 gram atau kurang dari satu sendok teh," paparnya.

Kampanye “Bijak Garam” bisa menjadi solusi cermat dalam mengurangi penggunaan garam. Saat Anda melakukan diet rendah garam, dapat diganti dengan penggunaan garam dengan bumbu umami seperti MSG.

"Jadi, jika tetap ingin makanan yang dikonsumsi memiliki rasa yang enak, namun sekaligus ingin mengurangi garam, cara ini sangat cocok," imbuh dia.

dr Rafael juga mengatakan, telah banyak penelitian sebelumnya yang menunjukkan penggunaan MSG atau bumbu umami bermanfaat untuk membantu mengurangi asupan garam sekaligus menjaga kelezatan makanan.

Bumbu umami terbukti meningkatkan rasa pada makanan. Namun, masih banyak masyarakat ragu dengan manfaat dan keamanan bumbu umami.

1
2