Share

6.047 Balita DKI Jakarta Alami Gizi Kurang, Stunting Hasilkan SDM yang Rentan Penyakit

Novie Fauziah, Jurnalis · Minggu 30 Januari 2022 19:03 WIB
$detail['images_title']
Gizi buruk pengaruhi kualitas SDM

GIZI buruk kepada anak balita, hingga kini masih menjadi pusat perhatian bagi Pemerintah. Diketahui bahwa gizi kurang kepada anak akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan, yakni tinggi badan menjadi lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya atau stunting.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta pada 2020, jumlah balita yang memiliki kekurangan gizi sebanyak 6.047 balita.

Bayi

Sementara untuk wilayah Jakarta Timur menyumbang kasus balita gizi kurang tertinggi, yaitu sebanyak 1.826 kasus, dibandingkan wilayah DKI Jakarta lainnya seperti Jakarta Selatan sebanyak 803 balita, Jakarta Pusat sebanyak 989 balita, Jakarta Barat sebanyak 1.823 balita, dan Jakarta Utara sebanyak 498 balita.

BACA JUGA : Gara-Gara Pandemi, Penanganan Stunting dalam 2 Tahun Terakhir Mandek

Sementara itu, pemerintah DKI Jakarta menargetkan angka stunting turun hingga 0 persen. Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Timur, H.R Krisdianto mengatakan, kondisi Covid-19 seperti sekarang ini, cukup banyak keluarga yang terpaksa putus kerja atau dirumahkan, sehingga berdampak pada ekonomi keluarga.

BACA JUGA : Penyebab Utama Stunting, Malnutrisi dan Kebutuhan Gizi Anak yang Meningkat

Ia melanjutkan, ekonomi keluarga tersebut berdampak pula terhadap pemberian nutrisi kepada anak-anak balita. Sehingga, nutrisi yang kurang diberikan kepada balita ini dampaknya sangat panjang.

"Sehingga pastinya menimbulkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia rentan penyakit." ujarnya dalam keterangan resminya.

Sedangkan itu, Managing Director Amway Indonesia, Leo Boon Wong mengatakan, nutrisi dan kesehatan holistik sangat penting bagi konsumen dan masyarakat Indonesia. Kemudian pihaknya juga mendukung kehidupan yang lebih baik, dan lebih sehat.

"Kami berkomitmen memberikan dampak sosial yang nyata melalui berbagai inisiatif sosial," katanya.

Sementara itu dalam Rapat Tingkat Menteri Konvergensi Anggaran dalam Percepatan Penurunan Stunting, secara virtual pada 20 Januari 2022, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menuturkan, pemerintah menargetkan angka stunting di Indonesia turun menjadi 14 persen tahun 2024, maka setiap tahunnya perlu terjadi penurunan sekitar 3 persen.

Menurutnya, permasalahan stunting ini memang selalu menjadi isu setiap tahunnya. Akan tetapi, apakah sosialisasi yang telah disebar ke masyarakat ini sudah bisa membangkitkan kesadaran.

"Karena tahap-tahap inovasi dan adaptasi itu kan mulai dari flow lines, mereka ngerti ada sesuatu yang penting," terangnya.

1
2