Share

Angka Stunting Masih Tinggi, Menkes: MPASI Banyak Meleset

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 11 Januari 2022 13:28 WIB
$detail['images_title']
Stunting (Foto: Code blue)

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) menargetkan Kementerian Kesehatan bersama BKKBN untuk bisa menurunkan angka stunting pada balita di Indonesia menjadi di angka 14 persen di tahun 2024.

Ini artinya, jika angka stunting per tahun 2021 ada di angka 24,4 persen. Maka setiap tahunnya, dari hitungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) angka stunting harus bisa turun sampai 3 persen, atau setidaknyga 2,7 persen per tahun.

 Menkes

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, analisa dalam dari Kemenkes memperlihatkan penyebab angka stunting tinggi di Indonesia salah satu faktor utamanya karena ada intervensi spesifik.

“Untuk intervensi spesifik, itu penyebabnya ada dua kenapa stunting itu tinggi. Intervensi spesifik sebelum lahir dan intervensi spesifik sesudah lahir,” jelas Menkes Budi, dalam siaran langsung Keterangan Pers Menteri terkait Ratas “Strategi Percepatan Penurunan Stunting”, Selasa (11/1/2022).

Dari catatan data SSGI tahun 2019, memperlihatkan sebelum lahir sekitar 23 persen anak lahir dengan kondisi sudah stunted. Hal ini akibat kurang gizi selama kehamilan. Menkes Budi menambahkan, dari pengamatan Kemenkes di periode balita sudah mulai diberi makanan pendamping ASIA (MPASI) lah yang banyak kekurangan.

Baca juga: Banyak Ajuan Pernikahan Dini Demi Hindari Zina, Padahal Bisa Sebabkan Anak Stunting

“Intervensi setelah lahir kita amati, sesudah menyusui. Begitu menyusui masih bagus, begitu sudah selesai ASI kan harus dikasih makanan tambahan. Nah di situ banyak melesetnya, banyak kekurangannya. Dua titik lemah inilah yang kita fokuskan di intervensi spesifik yang jadi tanggung jawab Kemenkes,” imbuhnya.

(DRM)