Share

Sering Alami Kebas dan Kesemutan? Waspada Gejala Diabetes

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 08 Januari 2022 12:32 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

INDONESIA menduduki peringkat kelima negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2021. Jumlah pasien diabetes di Indonesia mencapai 19,5 juta orang dan diproyeksikan akan terus meningkat hingga 28,6 juta orang pada 2045.

Dari angka tersebut, hampir 1 dari 5 penderita diabetes menderita neuropati atau gangguan saraf yang merupakan komplikasi diabetes paling umum. Komplikasi ini bisa ditandai dengan kebas dan kesemutan, mengalami infeksi berulang, ulkus yang tidak kunjung sembuh hingga amputasi jari dan kaki.

Komplikasi yang paling sering muncul akibat neuropati diabetik adalah terjadinya kaki diabetes atau diabeticfoot ulcer (DFU). Dokter konsultan endokrinologi, metabolik dan diabetes, Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan Sp.PD-KEMD, mengatakan neuropati adalah kondisi gangguan saraf tepi dengan keluhan tertentu.

Diabates

"Gejalanya mulai dari kebas, kesemutan, mati rasa, nyeri, rasa tebal, rasa berpasir, rasa dingin, panas, terbakar, hingga yang paling berbahaya adalah hilangnya sensitivitas proteksi sehingga tidak bisa merasakan ketika terluka," kata dr. Tri, dalam siaran pers yang diterima MNC Portal.

Dia melanjutkan bahwa kondisi tersebut bisa mengakibatkan luka atau cidera yang dapat berujung pada amputasi. Selain itu kebas dan kesemutan bisa jadi merupakan gejala awal dan tidak boleh diabaikan. "Jika berulang, sebaiknya segera periksa ke dokter, karena mungkin saja Anda tidak sadar sudah menderita diabetes dan sudah mengalami komplikasi, sambungnya.

Deteksi dini akan membantu pasien mendapatkan penanganan sejak awal, sebelum terjadi kerusakan saraf yang semakin parah. "Salah satu cara mengurangi gejala neuropati adalah dengan melakukan latihan fisik atau berolahraga, serta mengkonsumsi vitamin untuk saraf jika perlu," tuturnya.

Spesialis Kedokteran Olahraga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO), dr. Ade Jeanne Domina L. Tobing, Sp.KO menjelaskan pentingnya aktivitas fisik dan latihan fisik secara baik, benar, terukur dan teratur (BBTT) untuk mencegah diabetes yang berujung pada neuropati.

Aktivitas sedentary seperti duduk berjam-jam dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, kegemukan, tekanan darah tinggi, osteoporosis termasuk gejala neuropati akibat penyakit. Terlebih sejak pandemi Covid-19 dan pembatasan kegiatan sosial, membuat orang semakin jarang bergerak dan cenderung pada gaya hidup sedentary.

“Jadi harus ada keseimbangan antara asupan makanan dengan aktivitas atau latihan fisik. Salah satu cara untuk mencegah neuropati, perlu melakukan latihan fisik seperti senam Neuromove," kata dr. Ade.

Gerakan dalam senam tersebut didesain khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf dan meningkatkan fungsi saraf serta otak kanan-kiri, sehingga fungsi kognitif seperti memori, emosi, konsentrasi menjadi lebih baik.

"Selain mencegah neuropati, Neuromove juga dapat meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, serta meningkatkan ketahanan jantung –paru dan peredaran darah,” tuntasnya.

1
2