Share

Berikut 5 Perkembangan Baru Terkait Varian Omicron

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 14 Desember 2021 15:41 WIB
$detail['images_title']
Varian omicron (Foto: DW)

VARIAN Omicron tengah menjadi perbincangan masyarakat dunia. Sejak diumumkan pada 24 November 2021 oleh para ilmuwan asal Afrika Selatan, varian ini telah menyebar ke berbagai dunia.

Karena kemampuannya yang mampu menyebar dengan luas, maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan varian Omicron ke dalam kategori Variant of Concern (VOC) atau varian yang diwaspadai.

omicron

Saat ini masih belum banyak data yang diketahui mengenai varian Omicron. Namun, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama Sp P(K), MARS mencoba memberikan update terkait perkembangan varian Omicron.

Setidaknya ada lima perkembangan baru yang disampaikan Prof. Tjandra, di antaranya:

1. Australia melaporkan menemukan semacam sub-varian baru dari Omicron, yang dilaporkan tidak memiliki SGTF (S gene target failure). Pada Omicron yang biasa ada SGTF sehingga pada PCR maka gen S nya tidak terdeteksi (negative).

Kondisi ini menjadi semacam petanda awal atau skrining pertama untuk kemungkinan Omicron dan lalu dilanjutkan dengan sekuens genomik. Dengan tidak adanya SGTF maka hasil PCR akan sama saja dengan varian lainnya.

Sehingga deteksi tidak adanya gen S tidak dapat digunakan lagi, juga demikian halnya kalau sub-varian baru ini sudah masuk Indonesia nantinya.

2. Disebutkan ada penelitian dari University of London College, Prof Francois Balloux yang menyebutkan bahwa ada dua jenis varian Omicron, yakni BA.1 dan BA.2. Keduanya sangat berbeda dan tentu perlu dikaji lebih lanjut.

3. Data 'Landscape Covid-19 Vaccine' yang dipublikasi WHO pada 7 Desember 2021 menyebutkan saat ini sudah ada 136 kandidat vaksin di dunia. Vaksin itu sudah masuk fase uji klinik dan ada 194 kandidat vaksin yang masuk uji pre klinik

4. Dari 136 kandidat vaksin yang sudah masuk uji klinik, tiga tertinggi urutan cara pembuatan (platformnya) adalah Protein Sub Unit 35 persen, RNA 16 persen dan Viral Vector non Replicating sebanyak 15 persen.

5. Berdasarkan data pada 7 Desember 2021 juga menunjukkan ada enam penelitian cara pemberian vaksin. Tiga cara dengan disuntikkan yakni: intra muskular ke dalam otot, sub kutan ke bawah kulit, dan intra dermal ke dalam kulit.

Baca juga: Ini Pentingnya Vaksinasi Covid-19 Anak Usia 6-11 Tahun

Selain itu ada tiga cara lain yang digunakan, yakni tanpa suntikan, yaitu aerosol, inhalasi dan intra nasal ke dalam hidung.

(DRM)