Share

Pria Lebih Mudah Menyebarkan Covid-19 dibanding Perempuan?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 08 Desember 2021 08:02 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

HAMPIR setiap orang terinfeksi Covid-19. Lantas timbul pertanyaan, pria atau wanita yang lebih mudah menyebarkan Covid-19 jika terinfeksi? 

Penelitian di Colorado State University (CSU) mengungkapkan bahwa pria dan orang yang berbicara dengan volume kencang lebih mudah menyebarkan Covid-19.

Studi yang sudah diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Technology Letters pada November itu memeriksa emisi aerosol pernapasan dari panel individu sehat dari berbagai usia dan jenis kelamin saat berbicara dan bernyanyi dalam set laboratorium yang terkontrol.

Batuk

Peneliti mengukur konsentrasi jumlah partikel antara 0,25 dan 33 mikrometer dari 63 peserta studi yang berusia 12-61 tahun dan volume suara, serta tingkat CO2 yang dihembuskan. Semua indikator tersebut dipantau oleh peneliti.

Baca Juga : PPKM Level 3 Batal, Kasus Covid-19 Bakal Naik Usai Nataru?

Pengukuran dilakukan dengan dua cara; saat subjek penelitian menggunakan masker dan saat melepaskannya.

Baca Juga : Cek Fakta: Omicron Ternyata Hasil Komplikasi Vaksin Covid-19?

Dari situ diketahui bahwa saat orang bernyanyi, terbentuk aerosol 77% lebih banyak daripada berbicara; orang dewasa menghasilkan aerosol 62% lebih banyak daripada anak di bawah 17 tahun; dan pria menghasilkan aerosol 34% lebih banyak daripada perempuan.

"Studi lanjutan yaitu eksperimen memainkan alat musik tiup tengah menunggu hasil analisis data dan ditinjau oleh sejawat," terang laporan Fox News, dikutip MNC Portal, Rabu (8/12/2021).

Studi ini awalnya dikembangkan sejak awal pandemi Covid-19 dalam upaya menentukan apa yang dapat dilakukan orang-orang dalam pertunjukan seni untuk kembali ke atas panggung dengan aman.

"Dari studi ini kita bisa tahu bahwa bernyanyi dengan volume kencang menghasilkan aerosol lebih banyak daripada sekadar bicara santai. Jadi, semakin keras orang berbicara atau bernyanyi, semakin buruk emisi aerosolnya," terang CSU dalam pernyataan resminya.

Hal itu juga berkaitan dengan jenis kelamin. Karena laki-laki menghasilkan aerosol lebih banyak dari perempuan, dan orang dewasa lebih banyak dari anak-anak, ini menjadi bahan acuan untuk dipertimbangkan dalam upaya menurunkan risiko penularan.

Menjadi catatan di sini bahwa penelitian ini dilakukan dengan set laboratorium, yang artinya tidak bisa digeneralisasikan ke set dunia nyata. Terlebih, studi ini tidak melibatkan pengujian jenis vokal dan penguji tidak mengukur risiko penularan penyakit pernapasan. Untuk itu, sangat diperlukan studi lebih lanjut.

1
2