Share

Gunung Semeru Meletus, Waspadai Dampak Debu Vulkanik terhadap Saluran Pernapasan

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Minggu 05 Desember 2021 10:55 WIB
$detail['images_title']
Gunung Semeru Meletus (Foto: Antara)

GUNUNG Semeru meletus pada Sabtu (4/12/2021) sekitar pukul 15.00 WIB. Berdasarkan video yang beredar, gumpalan abu vulkanik letusan gunung berapi setinggi 3.676 MDPL yang berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur itu membumbung setinggi ribuan meter dari atas puncak.

Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan masker serta kacamata untuk meminimalisasi dampak buruk bagi kesehatan, salah satunya pada saluran pernapasan. Pasalnya, menghirup abu vulkanik dapat menjadi penyebab utama penyakit mematikan bagi beberapa orang.

Dilansir dari Forbes, Minggu (5/12/2021), meski abu vulkanik cenderung memiliki partikel yang ringan, namun sebenarnya partikel tersebut sangat padat, kira-kira lima sampai enam kali lipat dari air hujan. Saat terhirup, abu vulkanik itu dapat merusak bagian dalam bronkiolus, alveoli, hingga kapiler.

Baca Juga : 6 Penyakit yang Perlu Diwaspadai Pasca Gunung Semeru Meletus

Dalam jangka panjang, ini dapat menyebabkan silikosis, yakni penyakit yang berpotensi menimbulkan bekas luka permanen pada paru-paru Anda. Jika abu tersebut jatuh ke dalam persediaan air dan orang meminumnya, maka kondisi menyakitkan yang sama pun dapat mempengaruhi sistem pencernaan mereka.

Hal ini dikarenakan adanya beberapa aerosol beracun yang terperangkap di dalam sebagian besar abu vulkanik, termasuk hidrogen sulfida, sulfur dioksida, dan asam klorida dan hidrofluorik.

Baca Juga : Gunung Semeru Meletus, Ini 6 Bantuan yang Dibutuhkan Korban Terdampak

Abu vulkanik ini bisa menyebabkan sesak napas hingga batuk yang berlebihan bagi siapapun yang menghirupnya. Dalam sistem pernapasan, Anda mungkin akan terkena bronkitis.

Selain itu, kandungan zat korosif yang cukup banyak dalam abu tersebut juga dapat menyebabkan mata Anda mulai berdarah. Kornea Anda juga bisa menjadi lelah hingga konjungtivitis pun akan lebih mungkin terjadi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menggunakan masker serta kacamata sebagai pencegahan.

(hel)