Share

Varian Omicron Diduga Berasal dari Pasien HIV

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 02 Desember 2021 13:14 WIB
$detail['images_title']
Varian omicron (Foto: Antara)

AKHIRNYA sedikit demi sedikit teka-teki mengenai varian Omicron terpecahkan. Belum lama ini ilmuwan mengumumkan hasil analisisnya soal dari mana asal mula varian Omicron yang punya kode B.1.1.529.

Laman Telegraph merilis laporan ilmuwan Afrika Selatan tersebut bahwa varian Omicron dipercayai berasal dari pasien HIV/AIDS yang terinfeksi Covid-19 namun tidak diobati.

 HIV

Menurut Richard Lessells, seorang ahli penyakit menular di Afrika Selatan, varian Omicron terinkubasi di dalam tubuh pasien HIV atau AIDS. Lessells sendiri ialah bagian dari tim yang pertama kali 'membunyikan alarm' tentang penyebaran varian baru.

"Varian Omicron tampaknya tidak muncul dari proses evolusi virus secara normal," kata Lessells mengawali analisisnya, dikutip MNC Portal dari Mothership, Kamis (2/12/2021).

"Sebaliknya, kami percaya ada semacam lompatan evolusioner yang terjadi dalam proses pembentukan varian baru ini. Kami juga yakin varian Omicron itu tidak berevolusi dari varian Delta," sambungnya.

Dalam laporan Telegraph juga dijelaskan bahwa individu dengan gangguan kekebalan, termasuk HIV atau kanker yang tidak diobati, akan lebih sulit melawan infeksi Covid-19 yang artinya virus tetap ada di tubuh mereka untuk jangka waktu yang lama. Kondisi tersebut membuat virus memiliki banyak kesempatan untuk bermutasi dan menemukan cara untuk bertahan dari respons kekebalan tubuh manusia.

"Dalam kondisi tersebut, virus yang terperangkap bertindak sebagai 'pusat pelatihan evolusioner' untuk virus berikutnya," lapor Telegraph.

Jika mengacu pada kondisi HIV di Afrika, data Telegraph menjelaskan bahwa banyak sekali kasus HIV yang tak terobati di sana. Lebih parahnya, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Ahli virologi Afrika Selatan Barry Schoub mengatakan kepada Sky News bahwa varian Omicron mungkin ditemukan pada orang-orang yang mengalami imunosupresi dan tidak divaksinasi. Di sisi lain, menurut Centers for Disease Control and Prevention, HIV menyerang sistem kekebalan tubuh.

"Bagi mereka yang berhasil mendapatkan pengobatan HIV, mereka 'imunokompeten, seperti kita semua' dan ini artinya mereka lebih mampu menangkal virus seperti Covid-19," ungkap Schoub.

Afrika Selatan sendiri adalah salah satu tingkat Negara dengan kasus HIV tertinggi di dunia, dengan 20,4 persen dari populasi umumnya terinfeksi HIV. Namun, hanya 71 persen dari populasi orang dewasa yang terinfeksi sedang menjalani pengobatan untuk HIV, dan 47 persen anak-anak mengalami kekebalan yang terganggu.

Parahnya lagi, Telegraph melaporkan bahwa hanya 24 persen orang Afrika Selatan yang sudah divaksin Covid-19. Ini terjadi karena masih tingginya keragu-raguan masyarakat akan vaksin.

 Baca juga: Atasi Varian Omicron, Inggris Pesan 114 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Baru

Namun, laporan terbaru Bloomberg mengungkapkan bahwa makin ke sini makin banyak orang Afrika Selatan yang mau divaksin efek dari merebaknya varian Omicron. Hal ini tentu mendukung saran ilmuwan bahwa ke depannya pasien HIV di Afrika Selatan harus menjadi prioritas vaksinasi Covid-19.

(DRM)