Share

Negara Ini Jadi yang Pertama Menyetujui Pil Anti Virus Covid-19

Hasyim Ashari, Jurnalis · Kamis 04 November 2021 19:54 WIB
$detail['images_title']
Pil Anti Virus Covid-19 (Foto: Channel news asia)

RUPANYA Inggris menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui pil antivirus Covid-19 yang dikembangkan oleh Marck dan Ridgeback Biopetherapeutics. Hal tersebut dalam upaya memerangi pandemi yang saat ini merebak di seluruh dunia.

Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan (MHRA) merekomendasikan obat molnupiravir untuk diberikan secepat mungkin setelah tes dinyatakan positif Covid-19 dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala. Ini adalah pengobatan antivirus oral pertama untuk COVID-19 yang disetujui potensi izin peraturan AS.

 pandemi Covid-19

Penasihat AS akan bertemu bulan ini untuk memilih apakah molnupiravir harus disahkan. Obat tersebut, yang diberi merek Lagevrio di Inggris, telah diawasi dengan ketat sejak data bulan lalu.

Baca juga: Cegah Covid-19 Naik Akhir Tahun, Epidemilog Ingatkan Pemerintah Tak Bisa Lakukan Sendiri

Hasilnya menunjukkan obat itu dapat mengurangi separuh kemungkinan kematian atau dirawat di rumah sakit bagi mereka yang paling berisiko terkena Covid-19 parah ketika diberikan pada awal penyakit.

Seperti dilansir dari Channel News Asia (CNA), Kamis (4/11/2021), Pemerintah Inggris dan Layanan Kesehatan Nasional negara itu akan mengkonfirmasi bagaimana pengobatan akan diberikan kepada pasien pada waktunya.

Pada bulan lalu, Inggris menyetujui kesepakatan dengan Merck untuk mengamankan 480.000 kursus molnupiravir.

Dalam pernyataan terpisah, Merck mengatakan pihaknya mengharapkan untuk memproduksi 10 juta program pengobatan pada akhir tahun ini, dengan setidaknya 20 juta akan diproduksi pada tahun 2022.

Pil Covid-19 ini dapat menjadi terobosan baru, karena bisa diminum orang di rumah untuk mengurangi gejala dan mempercepat pemulihan. Keberhasilannya diharap akan mengurangi beban kasus yang menghancurkan fasilitas kesehatan dan membantu mengekang wabah di negara-negara miskin dengan sistem perawatan kesehatan yang lemah.

Follow Berita Okezone di Google News

(DRM)

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.