Share

Dokter Sebut Obat Ampuh Atasi Badai Sitkoin seperti Dialami Deddy Corbuzier

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 23 Agustus 2021 12:19 WIB
$detail['images_title']
Deddy Corbuzier (Foto: YouTube)

DEDDY Corbuzier selamat dari Covid-19 parah. Badai sitokin yang menyerangnya dianggap dapat menyebabkan kematian jika terlambat ditangani.

Salah satu penyebab keparahan badai sitokin yang dialami Deddy Corbuzier adalah peradangan pada paru-paru yang meluas. Jika inflamasi ini tak tertangani segera dan tepat laksana, kondisi buruk itu dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan paru-paru mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh.

Deddy Corbuzier

Badai sitokin sendiri dapat muncul pasca-Covid-19 seperti yang dialami Deddy Corbuzier. Komplikasi jenis ini, menurut Ahli Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam, dapat menyebabkan kefatalan jika pasien punya komorbid.

"Badai sitokin bisa semakin memperparah pasien jika dia memiliki riwayat penyakit lain atau komorbid," terang Prof Ari melalui pesan singkat, Senin (23/8/2021).

Prof Ari sendiri juga pernah terpapar Covid-19 tahun lalu dan sempat mengalami badai sitokin saat menjadi penyintas. "Seluruh pengalaman saya dituliskan dalam bentuk case report (self reported case) dan dipublikasi di jurnal Q3 agar menjadi pelajaran teman sejawat dokter dalam menangani kasus Covid-19," tambahnya.

Baca Juga : Deddy Corbuzier Sempat Kritis Kena Badai Sitokin, Ini Penjelasan Dokter Gunawan

Prof Ari menerangakn, salah satu obat utama yang dipercaya dapat menangani badai sitokin pasca-Covid-19 ialah Tocilizumab. Namun, ia menyayangkan bahwa stok obat ini masih kurang di Indonesia dan juga di tingkat global. "Padahal obat ini efektif menghambat dan menangani sindrom badai sitokin," terangnya.

Tocilizumab sendiri merupakan antibodi monoklonal & antagonis reseptor IL-6 untuk menghambat IL-6, sehingga kondisi pasien yang mengalami badai sitokin tidak bertambah buruk dan membaik.

Prof Ari menambahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah merekomendasikan obat ini untuk kasus berat dan kritis. "Sebab, obat ini dapat mengurangi kematian dan menekan penggunaan ventilator pada kelompok pasien tersebut," katanya.

(hel)