Share

Kemenkes Umumkan Studi Terbaru Efektivitas Vaksin Sinovac, Ini Hasilnya

Pradita Ananda, Jurnalis · Sabtu 14 Agustus 2021 09:51 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi Vaksin Sinovac. (Foto: Jcomp/Freepik)

BADAN Penelitian dan Pengembangan Kesehatan yang bernaung di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru saja menggelar studi terbaru terkait efektivitas Vaksin Sinovac. Studi ini melibatkan 71.455 tenaga kesehatan di Provinsi DKI Jakarta.

Studi dilakukan untuk mengamati kasus konfirmasi covid-19, perawatan inap, dan kematian akibat covid-19 pada nakes yang terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok yang sudah menerima dosis pertama vaksin CoronaVac, kelompok yang sudah divaksin full dua dosis, yang kelompok yang belum divaksin.

Baca juga: Kabar Baik, Kasus Konfirmasi Covid-19 Turun Mencapai 18% 

Disampaikan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi, hasil studi memperlihatkan pada periode Januari dan Maret 2021, Vaksin Sinovac cukup efektif mencegah infeksi covid-19. Sementara di bulan berikutnya vaksinasi lengkap memperlihatkan masih kurang efektif untuk melindungi nakes terkena infeksi covid-19, tapi masih efektif melindungi dari risiko fatal seperti kematian.

"Pada periode Januari dan Maret 2021, Vaksin CoronaVac cukup efektif dalam mencegah infeksi covid-19. Namun pada April dan Juni, vaksinasi lengkap kurang melindungi tenaga kesehatan dari infeksi covid-19. Meski demikian, vaksinasi lengkap masih melindungi efektif dari risiko perawatan dan kematian akibat covid-19," ujar dr Siti Nadia dalam Siaran Pers PPKM yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat 13 Agustus 2021.

Baca juga: Kemenkes: Vaksinasi Lengkap Tenaga Kesehatan Kurangi Risiko Dirawat Inap 

Kemudian didapati pada Januari hingga Maret 2021, jumlah nakes pada kelompok yang belum divaksin yang dirawat mencapai 12 persen. Lalu yang divaksin dosis pertama sebanyak 19,3 persen; dan full vaksin dua dosis lengkap sebanyak 18 persen.

Per April hingga Juni 2021, jumlah nakes pada kelompok yang belum divaksin yang harus dirawat akibat covid-19 meningkat dua kali lipat menjadi 24 persen. Kelompok yang sudah divaksis dosis pertama turun menjadi 8,1 persen. Lalu kelompok yang sudah divaksin dosis komplet berkurang sampai enam kali lipat lebih rendah daripada sebelumnya yakni hanya 3,3 persen.

Dokter Siti Nadia menambahkan, dari catatan puluhan tenaga kesehatan yang meninggal akibat covid-19 selama periode enam bulan, sebagian besar terjadi pada tenaga kesehatan yang belum divaksin.

"Sepanjang Januari sampai Juni 2021, 20 orang tenaga kesehatan meninggal karena covid-19, 75 persen kematian pada tenaga kesehatan adalah pada yang belum divaksin atau yang baru divaksin dosis pertama," pungkasnya.

Baca juga: Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Dokter Reisa Bagikan 7 Panduan Pengendalian Penyakit 

1
2