Share

Heboh Panic Buying Susu Beruang, Pakar IPB: Itu Bukan Obat Covid-19

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Selasa 06 Juli 2021 13:23 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi heboh panic buying susu beruang. (Foto: Jcomp/Freepik)

Guna memenuhi kebutuhan gizi, ia menyarankan supaya masyarakat memerhatikan angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan.

Nilai AKG yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia adalah suatu nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi hampir semua orang dengan karakteristik tertentu yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis untuk hidup sehat.

Baca juga: Covid-19 Meningkat, 300 Kaleng Susu Beruang Ludes Terjual dalam 1 Jam 

Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik. Hal ini dikarenakan semua jenis olahan susu cair, baik itu pasteurisasi, steril, maupun UHT, memiliki kandungan gizi yang hampir sama. Sehingga, manfaat kesehatan yang didapatkan pun relatif sama.

Terkait panic buying yang terjadi, Dr Epi mengimbau supaya para pelaku pasar tidak mengambil keuntungan sesaat dengan menaikkan harga jual produk susu di luar kewajaran. Ia juga meminta pemerintah bersama industri pangan dan peternak dapat menjamin pasokan produk-produk olahan pangan.

Baca juga: Dokter Faheem Younus: Susu Beruang Tak Miliki Peran Obati Covid-19 

Hal ini dalam rangka membantu menjaga status kesehatan masyarakat sehingga ketersediaan dan keterjangkauan belinya dapat terjaga bagi masyarakat secara umum.

"Bagi masyarakat atau konsumen, teruskan mengonsumsi susu dan protein hewani lainnya, tentunya protein nabati juga sebagai sumber serat yang tidak dimiliki susu, dalam rangka melakukan pola makan yang sehat beragam dan seimbang," pungkasnya.

(han)