Share

Angka Kematian di Dunia Akibat Covid-19 Dua Kali Lipat dari Perkiraan

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 07 Mei 2021 11:24 WIB
$detail['images_title']
Pandemi Covid-19 (Foto: Oddity)

Pandemi global Covid-19 yang sudah berlangsung di dunia, hingga saat ini memang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Justru saat ini, berbagai mutasi virus yang memunculkan strain atau varian virus corona baru mulai dari strain Inggris, Afrika Selatan, Brasil, hingga India.

Situasi ini semakin diperparah dengan angka kematian yang ada. Mengutip USA News, Jumat (7/5/2021) hasil data analisi baru dari organisasi penelitian kesehatan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) Universitas Washington disebutkan, pandemi Covid-19 telah menyebabkan diestimasikan adanya 6,9 juta kematian di seluruh dunia. Catatan jumlah ini disebutkan lebih dari dua kali lipat jumlah yang tercatat secara resmi.

 pandemi Covid-19

Laporan ini juga menunjukkan, sebagian besar kematian tidak dilaporkan karena sebagian besar negara hanya mencatat yang terjadi di rumah sakit atau pasien dengan infeksi yang dikonfirmasi.

IHME menyebutkan, kematian akibat Covid-19 yang dilaporkan sangat terkait dengan tingkat pengujian di suatu negara itu sendiri.

“Jika tidak melakukan tes terlalu banyak, kemungkinan besar akan melewatkan kematian akibat Covid-19," kata Christopher Murray, Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation.

IHME sendiri memperkirakan total kematian akibat Covid-19 ini, dengan cara membandingkan kematian yang diantisipasi dari semua penyebab berdasarkan tren pra-pandemi dengan jumlah sebenarnya dari semua kematian yang disebabkan selama periode pandemi.

Untuk diketahui, laporan angka kematian akibat Covid-19 dari IHME tersebut hanya mencakup kematian yang disebabkan langsung oleh virus, bukan kematian yang disebabkan oleh gangguan pandemi terhadap sistem perawatan kesehatan dan komunitas.

“Banyak negara telah mencurahkan usaha luar biasa untuk mengukur jumlah korban pandemi, tetapi analisis kami menunjukkan betapa sulitnya melacak secara akurat penyakit menular baru dan cepat menyebar," pungkas Christopher Murray.

(DRM)