Share

Terkendala Pandemi, Begini Upaya Pemerintah Berantas TBC

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 24 Maret 2021 15:04 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto : Freepik)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai selama masa pandemi, kesadaran masyarakat untuk mengobati penyakit di luar Covid-19 menurun secara drastis. Salah satu penyakit dengan penurunan temuan kasus terbanyak adalah tuberkulosis (TBC).

Indonesia menjadi negara dengan beban TBC terbesar kedua setelah India. Dan menurut data Kemenkes, saat ini terdapat 316 rakyat Indonesia dari 100 ribu yang terkena TBC. Tentunya penyakit yang menyerang saluran pernapasan manusia ini juga harus mendapatkan perhatian penting.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan Kemenkes harus terus melakukan tindakan promotif dan preventif di bidang TBC. Hal ini wajib dilakukan sambil menjalankan program-program yang bersifat kuratif. Ia pun menjelaskan secara singkat tentang upaya yang bakal dilakukan Kemenkes.

Menkes Budi

“Preventif ini adalah hal-hal yang sifatnya important, sementara kuratif adalah hal yang urgent. Promotif jauh lebih murah, sementara kuratif itu lebih mahal. Promotif ini sifatnya lebih masif, sementara kuratif sifatnya lebih sedikit,” terang Menkes Budi, Dalam acara Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia’, Rabu (24/3/2021).

Baca Juga : Hari Tuberkulosis Sedunia, Kemenkes Temukan 845 Ribu Pasien TBC pada 2020

Baca Juga : Selama Pandemi, Data Pelaporan Kasus Tuberkulosis di Indonesia Menurun

Lebih lanjut Kementerian Kesehatan akan melakukan langkah-langkah yang lebih agresif untuk bisa menurunkan TBC di Tanah Air. Beberapa di antaranya mulai dari hal yang dipelajari, serta bagaimana bisa mendapatkan kualitas data dan digitalisasi laporan yang lebih baik lagi.

“Pandemi Covid-19 mendidik pemerintah bagaimana masalah data ini, kalau tidak rapih meminta data dan laporan maka tidak memiliki informasi yang lengkap untuk mengambil keputusan atau merumuskan kebijakan yang tepat. Oleh sebab itu salah satu langkah untuk memperbaiki data yang tepat mengenai TB harus dilakukan,” tuntasnya.

(hel)