Share

Lansia Belum Banyak Divaksin Covid-19, Pakar: Enggak Ada yang Bantu

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 18 Maret 2021 15:47 WIB
$detail['images_title']
Vaksin Covid-19 (Foto: Biospace)

Sampai sekarang sekitar 40 juta dosis vaksin Covid-19 sudah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis maupun berbentuk bulk atau bahan baku. Tentu saja dengan jumlah dosis sebanyak itu diharapkan proses vaksinasi Covid-19 berjalan lancar.

Terlebih lagi berbagai fasilitas dan akses vaksinasi makin bertambah banyak, seperti bertambahnya lokasi vaksinasi dan adanya vaksinasi drive thru yang melibatkan usaha swasta.

 Vaksin Covid-19

Menanggapi hal tersebut, Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, Ahli Vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, program vaksinasi yang sudah dijalankan pemerintah sudah berjalan baik.

"Akses dan sarananya sudah bagus. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya), sudah berjalan lancar. Pemda-pemda juga sudah menjalankan dengan baik," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima MNC Portal Indonesia, Kamis (18/3/2021).

Masalahnya terletak pada warga. Masih banyak warga yang masih malas dan memilih menunggu dipanggil untuk menjalani vaksinasi. Padahal sekarang sudah tersedia jalur untuk pendaftaran.

Begitu pula pada lansia. Sejauh ini masih banyak lansia yang belum divaksin. Ini karena lansia belum banyak mendapatkan bantuan agar bisa divaksinasi.

"Engga ada yang bantu ngurus dari keluarganya," tambah Sri Rezeki. Padahal di luar negeri, vaksinasi lansia dibantu oleh swasta. Maka, anggota keluarga yang lebih muda sebaiknya membantunya, karena vaksinasi lansia hanya berlangsung dua hari saja yaitu pada saat suntikan dosis pertama dan kedua.

Soal kasus penangguhan sementara penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca yang ditunda sementara gegara isu penggumpalan darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menurut Sri, sudah menyatakan aman. Kecuali, penggumpalan darah itu merupakan gejala yang kerap terjadi pada lansia dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan hiperkolesterol.

"Jadi, tidak divaksin saja, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah. Sebab, vaksin apa saja (bukan hanya vaksin Covid-19) juga punya risiko tromboemboli," tuturnya.

Ia meminta jangan sampai vaksinasi tertunda akibat isu penggumpalan darah ini. Angka kasus penggumpalan darah akibat vaksin Covid-19 juga terbilang sedikit, sekitar 1 persen. "Lain halnya jika kasus penggumpalan darah meningkat 2 kali setelah divaksinasi. Kita perlu khawatir," katanya.

(DRM)