Share

Indonesia Dapat Prioritas Pertama Sebagai Penerima Vaksin AstraZeneca di Asia Tenggara

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Minggu 14 Maret 2021 09:29 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi. (Foto: Okezone)

SEBANYAK 1,1 juta dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca dalam bentuk jadi, sudah diterima di Indonesia. Baru setelah itu, dibawa ke Bandung untuk disimpan di Bio Farma.

Vaksin tersebut merupakan tahap pertama dosis dari 11.704.800 juta dosis vaksin. Pengirimannya dilakukan secara bertahap. Diperkirakan akan selesai pada Mei 2021.

Pengamat Imunisasi dr Elizabeth Jane Soepardi menyambut gembira kehadiran vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca Inggris ke Indonesia. Indonesia mendapat prioritas pertama sebagai penerima vaksin Covid-19 ini, di antara negara-negara di Asia Tenggara.

 Vaksin

"WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memberikan apresiasi yang tinggi kepada Indonesia,” katanya lewat keterangan tertulis.

Jane mengakui bahwa pemerintah sangat pro aktif dalam program vaksinasi. Presiden Joko Widodo meminta semua menteri bekerja keras mendapatkan vaksin dari beragam produsen dan kelembagaan.

"Tak cuma Menteri Kesehatan, tetapi juga menteri-menteri yang lain seperti Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan,” jelas Jane.

Follow Berita Okezone di Google News

Jane juga menambahkan, Indonesia beruntung punya pabrik vaksin Bio Farma. Menurutnya, di Asia Selatan dan Asia Tenggara, hanya Indonesia dan India yang punya pabrik vaksin.

Dengan adanya pabrik vaksin, Indonesia tidak perlu membeli vaksin jadi. Di Bio Farma, vaksin bisa selesai dibuat dalam tempo empat minggu.

“Kalau beli vaksin jadi, volumenya lebih besar dan harganya jadi lebih mahal,” ujarnya.

Sedangkan bila membeli dalam bulk (bahan baku), Bio Farma bisa mengolahnya untuk dibuat vaksin jadi. "Satu botol bulk bisa digunakan untuk membuat 8-10 dosis vaksin," imbuh Jane.

Juru Bicara PT Bio Farma Bambang Heriyanto menuturkan, Indonesia bisa program vaksinasi dapat dicapai sesuai target pemerintah,” katanya.

Kapasitas Bio Farma bisa menampung keseluruhan vaksin Covid-19 yang dibutuhkan oleh Indonesia. “Vaksin yang datang tidak selamanya disimpan terus di gudang penyimpanan, tapi tentu akan didistribusikan untuk segera digunakan mengejar program vaksinasi dan mencapai herd immunity,” kata Bambang.

Ke depan, pemerintah sudah mendapat komitmen dari sejumlah perusahaan farmasi lain maupun lembaga lainnya.  Dari Pfizer, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) misalnya, pemerintah mendapat komitmen 100 juta dosis.

Lantas Novavax dari AS, berkomitmen mengirimkan 50 juta dosis. Itu di luar vaksin bikinan Moderna dan Sinopharm yang disalurkan lewat program vaksin gotong royong (mandiri).

1
3