Share

Lansia Perlu Jeda 28 Hari untuk Vaksinasi Dosis Kedua, Ini Alasannya

Antara, Jurnalis · Selasa 09 Maret 2021 22:37 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi vaksinasi covid-19 untuk lansia. (Foto: Shutterstock)

VAKSINASI covid-19 untuk masyarakat lanjut usia sudah dilakukan. Namun, ada bagian yang berbeda dalam pemberian vaksin covid-19 untuk lansia, yakni interval atau jeda waktu penyuntikan dosis pertama dan kedua berjarak 28 hari. Ini Berbeda dari penerima vaksin berusia 18–59 tahun yang perlu jarak 14 hari.

"Ada perbedaan karena pada lansia menurut penelitian dengan 0–28 hari ternyata antibodi lebih baik, optimal, lebih tinggi dari 0–14 hari," ungkap Ketua Tim Vaksinasi Covid-19 PB IDI, Profesor Dr dr Iris Rengganis dalam diskusi virtual bertema 'Kupas Tuntas Nutrisi dan Vaksin Covid-19 untuk Lansia' beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Antara.

Baca juga: Ini Alasan Tiap Vaksin Covid-19 Punya Jeda Waktu Penyuntikan Berbeda 

Ia melanjutkan, lansia memerlukan waktu lebih lama untuk membentuk antibodi dan rentang waktu untuk pemberian vaksin kedua 0–14 hari setelah vaksinasi covid-19 pertama dinilai belum cukup. Belum lagi ada degenerasi sistem imunitas pada lansia yang menyebabkan pembentukan antibodi lebih lama ketimbang kelompok usia lebih muda.

"Suntikan pertama baru membentuk antibodi tetapi belum yang protektif. Antibodi terbentuk sudah mengenak virus yang masuk dalam tubuh melalui vaksin kemudian perlahan meningkat. Pada vaksinasi kedua, barulah antibodi naik ke level protektif atau antibodi netralisasi yang bisa melindungi tubuh dari virus," jelasnya.

Vaksin yang diberikan antara dua kategori usia ini sama yakni Sinovac atau CoronaVac dengan dosis 0,5 ml IM yang dimasukkan ke otot melalui suntikan.

Lansia termasuk kelompok usia yang rentan terkena covid-19 bergejala berat hingga meninggal dunia. Data menunjukkan 48,3 persen kematian akibat covid-19 terjadi pada pasien lansia.

Baca juga: Ini Rahasia Indonesia Bisa Dapatkan Vaksin Covid-19 dalam Jumlah Besar 

Pemerintah sudah memulai program vaksinasi covid-19 bagi kategori lansia pada 8 Februari 2021 di fasilitas kesehatan puskesmas maupun rumah sakit milik pemerintah dan swasta. Vaknasinasi bagi lansia ini menjadi tindak lanjut diterbitkannya izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap vaksin covid-19.

Iris menekankan, vaksin yang disediakan pemerintah telah melewati serangkaian uji klinis yang ketat dan aman untuk kelompok usia 60 tahun ke atas. Menurut dia, tidak ada efek samping serius maupun kematian yang dilaporkan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

Follow Berita Okezone di Google News

Lebih lanjut, lansia dengan penyakit komorbid terkendali bisa mendapatkan vaksin. Sejauh ini rekomendasi penyakit komorbid yang dibolehkan antara lain penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit hati, diabetes, alergi makanan, asma, rhinitis alergi, dermatitis atopi, HIV dengan catatan khusus dokter, obesitas, nodul tiroid, penyakit gangguan psikosomatis dan tuberkulosis.

Program vaksinasi sendiri bukan segalanya untuk menghentikan pandemi covid-19, melainkan salah satu upaya mencapai kekebalan kelompok dengan target penduduk yang divaksinasi sebanyak 70 persen.

Baca juga: Vaksin AstraZeneca Tiba, Dokter: Kabar Gembira karena Jadi Punya Pilihan 

Di sisi lain, cara ini diambil sebagai solusi untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pasien akibat covid-19, meminimalkan dampak sosial dan ekonomi akibat pandemi, memperkuat sistem imunitas menyeluruh, mencegah penularan penyakit dan mengendalikan penularan penyakit seperti halnya pada kasus polio.

Iris mengingatkan, mereka yang belum divaksinasi atau yang telah mendapatkannya tetap menjalankan protokol kesehatan 5M yakni mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

1
2