Share

Fakta Terbaru, Ahli Sebut Virus Corona Memicu Gagal Ginjal

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 22 April 2020 13:20 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto : Financial Times)

Perawatan yang rumit

Ketika fungsi ginjal pasien menurun, Dr. Hugh Cassiere mengatakan bahwa kebanyakan dokter ICU cenderung kesulitan dalam memberikan perawatan kepada pasien. Berbeda ketika pasien hanya mengalami masalah pernapasan.

Pasien dengan kondisi seperti ini cenderung lebih mudah ditangani, meski cairan di dalam tubuhnya terbilang rendah. Namun, bila fungsi ginjal tidak berjalan sebagaimana mestinya, dokter tidak dapat mengeluarkan banyak cairan karena pasien kesulitan untuk buang air kecil.

"Jadi cairan apapun yang kita masukkan tidak keluar, dan itu bisa membuat kondisi paru-paru menjadi lebih buruk," ujar Hugh Cassiere yang juga merupakan ahli pulmonolg dan direktur medis di Respiratory Care Services, North Shore University Hospital, New York.

Pasien COVID-19

Cassiere memperkirakan 30-40% pasien positif COVID-19 yan gmenggunakan ventilator di ruang ICU mengalami masalah ginjal akut. Dan ini merupakan tanda bahwa penyakit yang dideritanya berpotensi memburuk.

"Setiap kali Anda berada di ICU, dan Anda mengalami cedera ginjal, itu adalah penanda untuk peningkatan risiko kematian," kata Cassiere.

Ironisnya, menurut laporan NBC News, 37 juta orang di Amerika Serikat diklaim memiliki penyakit ginjal kronis. Pasien dengan riwayat seperti inilah yang berisiko lebih besar terhadap infeksi virus pada umumnya, termasuk virus corona.

Oleh karenanya, National Kidney Foundation merekomendasikan pasien-pasien tersebut untuk memberikan perhatian khusus pada panduan social distancing (menjaga jarak sosial) dan rutin mencuci tangan setiap harinya. Para ahli juga mendesak mereka untuk melanjutkan perawatan dialisis dan obat yang diresepkan.

(hel)