Share

Mengenal Remdesivir, Kandidat Obat Virus Corona dari WHO

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 23 Maret 2020 15:32 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto : Thailandmedical)

Pada Jumat 20 Maret 2020 lalu, WHO mengumumkan proyek uji coba global besar-besaran yang disebut SOLIDARITY. Proyek ini dirilis untuk mengetahui apakah ada obat atau treatment yang bisa diaplikasikan untuk bisa mengobati Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru tersebut.

Diungkapkan oleh Ana Maria Henao-Restrepo, salah satu tenaga medis di Departemen Vaksin dan Biologi Departemen Imunisasi WHO, dalam proyek ini, ada empat jenis obat yang dimasukkan dalam daftar kandidat obat untuk mengobati Covid-19.

Daftar obat untuk diuji pertama kali untuk WHO, disebutkan disusun oleh panelis ilmuwan yang telah menilai sejak Januari silam. Para panelis ilmuwan, tersebut memilih obat-obatan yang memiliki kemungkinan kerja tertinggi, punya data keamanan paling banyak dari penggunaan sebelumnya; dan kemungkinan bisa tersedia dalam persediaan yang cukup untuk mengobati pasien dalam jumlah besar jika uji cobanya berhasil.

Salah satu yang masuk dalaf daftar kandidat obat tersebut adalah Remdesivir. Obat ini, aslinya dikembangkan untuk mengatasi wabah Ebola dan virus sejenisnya. Cara kerja dari obat remdesivir ini, disebutkan ia mampu menghentikan replikasi virus dengan menghambat enzim viral utama, RNA polimerase (enzim yang membantu mempercepat proses pembentukan RNA) yang bergantung pada RNA.

Obat remdesivir tersebut diketahui diuji oleh para peneliti pada tahun lalu selama wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo, bersama dengan tiga perawatan lainnya. Meski dikatakan tidak menunjukkan efek apa pun, tetapi enzim yang ditargetkan mirip dengan virus lain.

Obat Virus Corona

Sementara itu, pada 2017 lalu para peneliti di University of North Carolina di Chapel Hill menunjukkan dalam suatu percobaan dan penelitian pada hewan bahwa obat tersebut dapat menghambat virus corona yang menyebabkan SARS dan MERS.

Pasien pertama yang disebut positif COVID-19 di Amerika Serikat, pria muda di Snohomish County, Washington diketahui diberi obat remdesivir ketika kondisi kesehatannya memburuk. Menurut laporan di New England Journal of Medicine, pasien tersebut usai diberi obat remdesivir, keesokan harinya kesehatannya disebutkan membaik. Begitu juga dengan pasien di California, yang dianggap dokter akan tidak bisa bertahan, akhirnya berangsur pulih dan membaik.

Namun, bukti dari kasus individual tersebut belum bisa membuktikan valid bahwa obat remdesivir ini aman dan efektif. Tetapi, dari daftar kandidat obat untuk mengatasi virus corona Covid-19 dalam proyek uji coba SOLIDARITY, seperti dikatakan Jiang Shibo, dari Universitas Fudan di Shanghai, China, obat remdesivir memiliki potensi terbaik untuk digunakan.

Di sisi lain, Stanley Perlman, peneliti virus corona di University of Iowa menilai obat remdesivir kemungkinan bisa lebih berfungsi jika diberikan pada pasien di masa-masa awal terinfeksi, atau dengan kata lain masih gejala ringan, seperti kebanyakan obat lain. Namun sayangnya, hal ini bisa jadi kendala karena obat remdesivir adalah obat intravena yang harganya mahal. Demikian seperti diwarta Sciencemag, Senin (23/3/2020).

(hel)