Share

5 Panduan untuk Ibu Hamil tentang Virus Corona

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 19 Maret 2020 14:01 WIB
$detail['images_title']
Ilustrasi (Foto : Momjunction)

Salah satu yang menjadi perhatian terbesar di tengah pandemi virus corona COVID-19 ini adalah bagaimana infeksi virus ini dapat berefek pada ibu hamil dan janin yang ia kandung.

Sejauh ini, meskipun bukti sangat terbatas penelitian awal menunjukkan virus tidak dapat ditularkan di dalam rahim.

Namun, setelah adanya laporan bahwa ada bayi yang baru lahir di Inggris dites positif COVID-19 saat setelah dilahirkan. Tentu membuat para ibu hamil jadi bertanya-tanya.

Maka dari itu tak ada salahnya untuk menyimak, beberapa panduan tentang virus corona COVID-19 yang harus diketahui oleh ibu hamil di bawah ini. Seperti diwarta Healthline, Kamis (19/3/2020).

1. Bisakah ditularkan ke janin

Salah satu temuan terbesar dalam penelitian awal, disebutkan adalah bahwa virus ini sepertinya tidak menular dari ibu ke janin di dalam rahim. Wei Zhang, profesor kedokteran pencegahan di Feinberg School of Medicine, Universitas Northwestern, baru-baru ini ikut menulis sebuah penelitian Trusted Source yang mengamati sembilan orang wanita hamil di China yang didiagnosis dengan virus corona yang melahirkan melalui bedah caesar.

Tim riset Wei menguji cairan ketuban, darah tali pusat, swab tenggorokan bayi, dan ASI. Dari pengujian ini tidak ditemukan bukti bahwa virus itu dapat menular dari ibu ke bayi di dalam rahim atau melalui operasi caesar.

Sedangkan tentang bayi positif yang baru lahir di Inggris, tidak menjadikan riset yang dilakukan menjadi tidak valid. Sebab dikatakan tidak ada informasi tentang tindakan pencegahan apa yang diambil selama persalinan atau spesimen apa yang diuji oleh tim medis keluarga, sehingga belum jelas bagaimana bayi tersebut bisa tertular virus.

Meskipun virus corona ini sepertinya tidak ditularkan secara vertikal, namun analisis pada 10 bayi baru lahir dari ibu positif COVID-19 menemukan bahwa infeksi tersebut sepertinya memiliki efek buruk pada bayi baru lahir.

Mulai dari gangguan pernapasan, trombosit darah yang rendah, dan fungsi hati abnormal. Inilah kenapa para ahli kesehatan sepakat bahwa dibutuhkan lebih banyak data untuk menilai sepenuhnya risiko bayi yang baru terinfeksi.

Ibu Hamil

2. Persalinan normal atau C-section yang lebih aman

Sayangnya, hingga berita ini dilansir dikatakan masih terlalu dini untuk mengatakan jawaban valid mana yang lebih aman dari melahirkan secara normal ataukah operasi C-section. Riset yang dilakukan oleh profesor Wei, dilakukan pada ibu hamil yang melahirkan secara sesar, membuat risiko pada persalinan normal tidak dinilai. Sedangkan infeksi virus tertentu dikatakan memang dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama persalinan.

Dikatakan Dr. Jessica Madden, dokter anak sekaligus neonatologis, dan direktur medis Aeroflow Breastpumps, virus yang dapat ditularkan dari ibu ke bayi di proses melahirkan contohnya virus HIV dan herpes yang bisa menyebar melalui darah dan cairan tubuh, yang menjadikan operasi C-section lebih aman. Sejauh ini belum ada bukti jelas metode persalinan mana yang lebih aman untuk situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini.

3. Apa yang harus dilakukan setelah melahirkan

Jika ibu bayi tersebut memang positif terinfeksi COVID-19, maka sang ibu harus diisolasi dari bayinya. Sampai keduanya benar-benar pulih, hal ini dilakukan untuk menghindari penularan virus ke bayi.

Sedangkan tentang ASI, CDC sendiri menyarankan sang ibu tetap memberikan ASI pada bayinya namun tidak dengan kontak dekat yang mana artinya ASI bisa diberikan pada bayi melalui botol susu. Tak hanya itu, perlu dipertimbangkan juga sang ibu untuk menggunakan alat pelindung seperti masker, gaun baju khusus, atau sarung tangan.

4. Apa langkah yang harus dilakukan ibu hamil?

Ibu hamil harus terus berkomunikasi, berdiskusi dengan dokter kandungan masing-masing. Tanyakan apakah jadwal pemeriksaan rutin bisa dilakukan dari jarak jauh untuk menurunkan risiko terpapar virus corona.

Lain lagi jika ibu hamil ini memiliki riwayat kontak dengan orang sakit atau mengalami gejala apa pun, penting dan segeralah menghubungi dokter kandungan Anda. Selain itu, sama dengan orang lain pada umumnya, ibu hamil juga harus rajin mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari orang sakit.

Ibu Hamil

5. Kelahiran di rumah

Wanita hamil yang didiagnosis positif COVID-19 direkomendasikan untuk tidak melakukan persalinan di rumah. Setting persalinan tidak yakin bisa dilakukan dengan benar di rumah. Untuk keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi sangat penting untuk tetap melahirkan di rumah sakit. Rumah sakit dapat memastikan ibu dan bayinya dipantau untuk memastikan bayi tidak mengalami gejala atau sakit.

1
2